Selasa, 23 April 2013

Contoh Latar Belakang KTI



BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Anak merupakan generasi penerus berlangsungnya kehidupan manusia dalam hal ini. Undang-Undang Perlindungan Anak No. 23 Tahun 2002 menerangkan  Bahwa anak adalah amanah dan karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang dalam dirinya melekat harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya. Definisi anak pada Pasal 1 disebutkan bahwa yang dimaksud dengan seorang anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.dalam rentang umur ini anak masih rentang pada kesalahan sehingga perlu pengawasan dari orang yang lebih dewasa, dalam hal ini adalah orng tua dari si anak. Pola pikir dan tingkah laku yang ditunjukkan oleh si anak masih digolongkan dalam kategori belajar dan belum sesempurna seperti yang ditunjukkan oleh orang dewasa. Anak harus sering – sering bersosialisasi untuk menyempuranakan pola pikirnya dan tingkah lakunya. Oleh karena itu, dalam hal ini orang dewasa harus mampu membimbing dan memandu anak – anak untuk menyempurnakan kelakuannya dan mengarahkan agar anak tidak sering melakukan penyimpangan di kehidupannya mendatang.
Daya pikir dari anak masih terbtas bila di usia dini dan akan terus berkembang mengikuti berbagai pengalaman yang ia dapatkan. Pengalaman itu bisa diperoleh dari kehidupan sehari – hari yang dialami si anak. Hal itu bisa berupa mengingat, menghubungkan, mengkaitkan, menggolongkan, memberikan simbol, mengkhayal, menciptakan sesuatu, dan lain – lain. Dengan melakukan hal – hal tersebut, diharapkan anak nantinya dapat berpikir rasional, berpikir yang sesuai dengan logika, hukum alam dan kenyataan. Untuk mencapai hal tersebut, biasanya anak – anak, mulai usia SD, bahkan TK, namun pada umumnya SD, dipaksa oleh para orang tuanya untuk belajar dan belajar tentang pelajaran – pelajaran di sekolah. Pelajaran yang biasanya diberikan adalah pelajaran – pelajaran tentang teori. Memang benar daya pikir rasional si anak akan berkembang, namun jika hal ini dilangsungka secara terus – menerus, anak akan menjadi jenuh dan berusaha meninggalkan pelajaran. Dan parahnya, orang tua malah terus memaksa anaknya untuk belajar. Orang tua sekarang seakan lupa akan karaktersitik anak sesungguhnya yang mudah bosan. Dan yang juga yang tidak disadari oleh orang tua adalah dengan bermain sebenarnya daya pikir rasional anak akan semakin berkembang. Sederhana, menghasilkan, namun dianggap remeh.
Permainan yang dilakukan tida perlu terlalu rumit, cukup sederhana saja seperti kebanyakan  permainan tradisional di masing – masing daerah.  Permainan tradisiobal tidak memerlukan biaya yang banyak dan alat – alat yang rumit serta sulit dicari karena permainan tradisional memanfaatkan alat – alat yang ada di lingkungan sekitar, hal ini tidak mampu ditampilkan oleh game – game canggih yang marak beberapa tahun belakangan ini. Selain itu memainkan game online  mengurangi interaksi sosial penggunanya karena bersifat virtual. Dengan melakukan permainan tradisional, terutama yang dilakukan berkelompok akan mampu meningkatkan interaksi sosial yang terjadi di dalamnya. Tidak melupakan keunggulan lainnya yang telah disinggung di atas, permainan tradisional juga ampuh untuk meningkatkan daya pikir rasional anak. Hal ini bisa dilihat dari penerapan permainan tradisional, seperti dalam permainan petak umpat, anak akan dilatih berpikir rasional dalam menemukan tempat persembunyian agar tidak mudah ditemukan. Di beberapa permainan tradisional lainnya, anak dilatih untuk mengatur strategi agar bisa menang dalam permainan. Dengan kata lain, dimungkinkan jika permainan tradisional dapat digunakan sebagai solusi alternatif untuk meningkatkan daya pikir rasional anak. Oleh karena itu, kali ini kami mengangkat judul karya tulis, “PERMAINAN TRADISIONAL SEBAGAI SOLUSI ALTERNATIF MENINGKATKAN DAYA PIKIR RSIONAL ANAK”.

1.2.Rumusan Masalah:
1.2.1.      Bagaimana penerapan permainan tradisional agar bisa meningkatkan daya pikir rasional anak?
1.2.2.      Bagaimana cara mengaplikasikan permainan tradisional di dunia modern?

1.3.Tujuan Penulisan:
1.3.1.      Untuk mengetahui bagaimana permainan tradisional agar bisa meningkatkan daya pikir rasional anak.
1.3.2.      Untuk mengetahui bagaimana cara mengaplikasikan permainan tradisional di dunia modern.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar