Minggu, 16 Maret 2014

Penangkapan Hantu Perampok?



Aku langsung menyerahkan surat kabar dua hari yang lalu ke meja kerja detektif wanita itu.
“Seorang ahli kimia, Prof.Hendarto Hadi, ditemukan tewas terpanggang di laboratorium pribadinya. Korban tewas setelah disiram cairan kimia korosif oleh rekan satu timnya yang berinisial HJ. Hingga kini pelaku masih buron. Keluarga…”
            “Ini koran tanggal 14 Oktober, Madam, coba anda simak berita terbarunya!”
16 OKTOBER 2013
Perkembangan dari kasus Profesor Hendarto Hadi semakin membuat polisi pusing. Belum diketemukannya pelaku pembuinuhan, kini polisi harus mengahadapi gangguan hantu dari sang profesor. Sang keponakan yang harus mewarisi harta kekayaannya, mulai diganggu oleh seorang hantu perampok, yang diduga adalah nya sendiri yang meninggal 2 hari yang lalu. Beredar kabar bawha sang  tidak rela mewariskan hartanya kepada sang keponakan.”
            “Hmm, Tuan. Sepertinya masalah ini akan berlangsung menarik. Kami akan berusaha membongkar kenyatraan dibalik peristiwa ini secepatnya. Ya—jika beruntung, kita mungkin bisa menangkap si hantu, hehe.” jawaban dari dari nenek tua ini sedikit membuatku bergidik. Rambutnya yang sudah seluruhnya putih membuatku semakin yakin bahwa ia tak taku apapun.
****
            Bi Idah dengan semangat membukakan pintu untuk tamu kami. Setelah beberapa lama bercakap-cakap, munculah seorang wanita tua yang mengenakan baju bermotif floral yang ceria dengan anggunnya. Oya, bajunya yang panjang hampir menutupi seluruh bagian kakinya yang boleh ku katakan cukup jenjang. Disampingnya, pria muda bersetelan necis berjalan berlenggok-lenggok bagaikan model di catwalk. Tapi tunggu, sepertinya gerakannya agak kemayu, ahh, sudahlah.
            “Selamat pagi Tuan Kuncoro Hadi, kami datang memenuhi permintaan anda. Oya, perkenalkan nama saya Dennis, asisten kepercayaan Madam Deborah—baik, silakan anda mulai menjabarkan rangkaian peristiwa yang terjadi. Aduh, maaf saya lupa. Gunakannlah penyampaian yang obyektif, ingat sifat subyektif hanya akan mengacaukan fakta yanga sebenarnya terjadi.”
Sambaran pemuda itu membuat aku sedikit kaget. Bagaimana tidak, tanpa basa basi ia langsung menyerangku ke topik. Begini, tadi, aku masih berjabat tangan dengannya. Bersama dengan itu ia langsung melontarkan kata-katanya dengan begitu cepatnya.
“Maafkan saya Tuan Kuncoro, kawan saya ini memang seperti itu. Sifatnya yang blak-blakan malah akan mempercepat penyelesaian kasus.” Madam Deborah sepertinya bisa membaca mataku. Dengan lembut ia kemudian duduk di sofa sambil menyilanggkan kakinya yang agak keriput. “Baik, sekarang bisa kita mulai? Mari jalan.” senyum manis tersungging di wajahnya yang masih lumayan cantik.
“Begini, pada tanggal 14 Pamanku tewas di lab kesayangannya. Badannya terbakar habis. Kami (Bi Idah, istriku, beberapa polisi, dan aku) sudah tidak bisa mengenalinya jasadnya. Ya, kurasa itu sudah cukup jelas, Prof. Hary Jaiman yang membunuhnya. Mereka memang sering sekali cekcok.”
“Seperti?” tanya si Dennis.
“Dari dulu mereka bersaing merebut perhatian sponsor untuk mendanani penelitian mereka. Pamanku rasanya telah mencuri ide Prof. Hary. Ia kemudian menggunakannya untuk menarik sponsor. Kurasa Prof. Hary sakit hati. Oya ini sms dari Prof. Hary kepada Paman—beberapa jam sebelum pembunuhan itu terjadi.”
Aku menunjukkan ponsel  ke depan kedua tamuku. Isinya seperti ini.
MARI KITA SELESAIKAN MASALAH INI HEN, DIAM KAU DI RUMAH AKU AKAN DATANG. BENAR-BENAR DATANG!!
“Ya, bukti ini cukup kuat. Polisi bisa menarik kesimpulan dengan mudah. Lanjutkan cerita anda Tuan.” sambung Madam Deborah.
“Ya—saya akan melanjutkan ke kasus hantu ini. Aku tidak percaya hantu—aku menganggap jika orang yang sudah mati tidak ada urusannya lagi dengan kita yang masih hidup. Ini juga harusnya berlaku bagi Paman. Begini, tanggal 15 aku dan istriku dipanggil oleh pengacara paman untuk menerima warisan dari Paman. Ya, kami memang satu-satunya sanak keluarga paman yang tersisa.” Aku diam sejenak dan memperhatikan mata Dennis, aku tahu apa yang akan ia tanya. “Ya, dia tidak menikah. Dia mengucilkan diri dari keluarga besar. Ya, kami tidak ada pilihan. Kami harus menerima warisannya, meskipun namaku tidak ditulis di surat wasiatnya. Oya—sampai di mana tadi?”
“Pemanggilan anda dan isteri.”
“Oya, setelah pengacara pergi. Kami kemudian mengecek isi brankas paman yang katanya penuh dengan kilauan perhiasan dan emas. Ah, ya, benar setelah ku buka, mulutku dan mulut istriku tidak bisa berhenti menganga. Banyak sekali!!.” aku berhenti untuk menarik napas. “Kami dengan segera menutup brankas tersebut, ya kami tidak kuat melihat benda berkilau-kilau itu dalam waktu lama—”
“Lebih singkat Tuan, maksud saya, lebih ke topik.” lagi-lagi anak ini menyemburku dengan kata-katanya yang tajam itu. Aku kembali menarik napas panjang.
“Ah, biarkan aku menyelesaikan ceritanya. Aku tahu apa yang harus kuceritakan—keesokan harinya di malamnya maksudku, isteriku membujukku untuk memindahkan beberapa batangan emas itu ke tempat lain. Ya, anda sekalian bisa menebak. Beberapa perhiasan dan batangan emas telah raib. Aku terdiam sejenak. Aku meyakinkan diriku telah mengunci brankas dengan benar. Satu lagi yang ingin kutambahkan. Yang tahu cara membuka brankas ini hanya keluarga besar Hadi saja. Nah, kita perlu ingat jika keluarga Hadi yang tersisa hanya aku dan Paman, sedangkan kita juga tahu bahwa Paman telah meninggal. Jadi kemungkinannya, jika bukan aku yang membuka brankas, ya pasti Pamanlah orangnya.”
“Apakah anda sudah yakin mengunci brankas dengan benar?” tanya Madam Deborah.
“Yakin seyakin, yakinnya. Isteriku jadi saksinya.”
“Bisa kulanjutkan?” dua anggukan serius mengikuti perkataanku. “Ya, kurasa nada bisa menebaknya kembali. Di malam berikutnya kami kembali membuka brankasnya. Ya, isinya kembali berkurang. Ini telah berlangsung 2 kali. Aku tidak tahu, apakah malam ini peristiwa ini akan terjadi lagi. Hantu ini, ia meneror kami rupanya. Tidak hanya dengan pencurian, tapi diikuti dengan asap tebal tiap malam hari, tiap terjadi pencurian. Sepertinya ia ingin menekankan efek teror hantu pada kami semua.”
“Hmm, sungguh menarik. Aku tidak yakin ada hantu pengutil brankas yang setelah mencuri akan beterbangan dengan meninggalkan asap-asap. Halah, aku seperti ingin tertawa.” wajah Dennis tampak bingung. Bukan seperti orang ingin tertawa seperti yang ia tuturkan.
“Jangan tertawa dulu sayangku, kita cerna cerita ini dulu.” tangan keriput Madam Deborah memukul manja asistennya yang kemayu itu. “Oya Tuan, saya ingin bertanya? Apakah anda yakin benar-benar terjadi pencurian? Begini, tadi anda bercerita jika anda dan isteri kaget saat melihat benda-benda berkilau itu, pendapat saya anda tidak akan tahu pasti berapa jumlah perhiasan yang ada dalam brankas itu.”
“Ya, aku sangat yakin. Pada hari pertama membuka brankas, aku mencocokkan isinya dengan daftar yang telah diberikan oleh pengacara Paman. Hmm, hasilnya cocok kok.”
“Bagaimana dengan asap itu?”
“Pada pencurian pertama kami tidak mengetahui ada asap. Yang memberitahu kami bahwa ada asap tebal adalah Bi Idah. Tapi yang kedua, kami bertiga melihat asap itu dengan mata kepala kami. Entah apa yang dipikirkan, Bi Idah mengarahkan kami untuk mengecek isi brankas lagi. Kami kemudian menemukan bahwa telah terjadi pencurian kedua. Kemudian, Bi Idah mengaitkan hal ini dengan hantu Paman yang mengambil kembali hartanya. Tentu saja, isteriku langsung histeris.”
“Baik, sudah cukup. Antarkan kami melihat brankas dan jalur yang dilalui si Hantu. Satu lagi, aku ingin melihat laboratorium mendiang Paman anda.” Bersamaan setelah itu, Madam Deborah terbangun dari posisinya semula dan kembali melemparkan senyum manis kepadaku.
Bergegas aku mengantarkan mereka ke brankas yang terletak di ruang tengah, di belakang ruang tamu tadi. Si Dennis mengecek brankas dam memastikan sangat sulit kemungkinan terjadinya perusakan dan teknik-teknik penghancuran lainnya. Setelah selesai, kami menyusuri jalur asap aneh tersebut. Dari ruang tengah mengambil jalur kiri ke koridor lantai satu yang cukup panjang. Jalan ini berujung tepat di lab Paman, sekaligus tempat asap itu berujung dan menghilang.
Setelah sampai di lab Paman, aku agak bergidik melihat lab pamanku. Seperti di adegan film horor yang menampilkan adegan pembunuhan di laboratorium, lengkap dengan peralatan kimia dan cermin besar di ujung ruangan yang bisa memantulkan seluruh bagian ruangan lab itu. Yang lebih mengerikan, ketika kita semakin masuk ke ruangan lab, langkah kami menjadi semakin bersuara. Ya, kami seperti menginjak lapisan tipis yang menutupi ruangan berongga. Hmm, yang pasti aku benci itu.
“Huh, rumah warisan ini menggunakan desain rumah Belanda ya? Aku sangat tertarik jika kita mungkin bisa menemukan ruang-ruang rahasia.  Heh sudahlah, aku ingin memastikan, kurasa asap itu berawal dari ruang tengah, ke koridor dan terakhir di ruangan lab ini.”
“Ya, tepat Madam asapnya berhenti di sini. Oya, mengenai pendapat anda tentang ruang rahasia, saya rasa mungkin memang benar ada ruangan rahasia di sini. Peninggalan Belanda kadang-kadang membuat kita terkaget. Namun, saya belum sempat mengeceknya.” jawabku dengan wajah penasaran.
Madam Deborah hanya mengangguk tanda sepakat dan kemudian kembali lagi ke topik utama pembicaraan.
“Dan anda bertiga mengamatin asapnya dari lantai dua. Beberapa saat kemudian kalian bertiga turun dan menyusuri jalur asap?”
“Ya, dituntun Bi Idah kami menelusuri jalurnya.”
“Huh, Pembantu anda ini—berani sekali untuk orang yang takut hantu. Oya, tadi di dekat pintu lab, saya melihat 2 tabung besar berisi gas nitrogen cair yang kelihatannya masih baru?”
“Ya itu masih baru Madam. Tepat datang tanggal 15 Oktober. Mungkin di pagi hari.” sambung Dennis. Kami sampai lupa jika ada pria kemayu ini di sini.
“Ah, benarkah? Kenapa mereka tidak tahu jika si pemesan sudah mati?”
“Maaf Madam, aku tidak mengetahui hal itu. Itu sudah tugas Bi Idah.” jawabku
Beberapa saat kemudian Bi Idah setengah berlari menghampiri kami. Aku heran kenapa minuman yang dibawanya tidak tumpah.
“Maafkan saya Tuan, Nyonya. Ini minumannya.” dengan sigap ia menaruh minuman di salah satu meja kayu. Namun, kembali dengan sigapnya ia menarik tanganku saat ingin menyalakan saklar lampu. ”Hati-hati Tuan, biar saya yang menyalakannya. Salah satu saklar di sini sering konslet. Nanti anda kesetrum.”  sebelum menyalakan lampu, ia agak terkaget melihat ke bawah. Mungkin ada kecoa, dengan agak termangu ia mengetok-ngetokkan hak sepatunya berharap bisa menjangkau si kecoa malang. “Nah, cukup satu lampu saja yang dinyalakan. Saya rasa sudah cukup terang”
“Oh, terima kasih Bi.” yah, syukurlah Bi Idah memberitahukan itu padaku. Tapi tunggu dulu, Madam Deborah sepertinya tidak percaya jika Bi Idah melihat kecoa. Dia terus-terusan mengamati gerak-gerik pembantu tua yang setia ini. Tapi, setelah ia melihat aku memperhatikannya, ia segera memalingkan pandangannya.
“Ooh, jadi di sana Paman anda meregang nyawa?” lagi-lagi anak muda ini mengejutkan aku. Kami tidak sadar jika ia sudah berada di sudut ruangan, tempat paman meninggal. Di sana masih cukup jelas terlihat kulit lantai keramik yang hangus dan terkelupas beberapa bagian.
“Oya, hampir aku lupa. Ada yang aneh dengan jas Paman. Aku heran, seharusnya, jasnya hangus terbakar.” tanyaku ke kedua orang unik ini.
“Maksud anda tuan?” tanya Dennis.
“Ya, sudah ku katakan sebelumnya, jika tubuh paman seluruhnya hangus terbakar. Sampai ke dalam pakaiannya, yah, maksudku kulitnya. Logikanya, jas itu harusnya hangus terbakar juga. Tapi, yang polisi temukan, jasnya hanya terbakar sebagian, tepatnya di bagian depan.”
“O, benarkah? Ini sungguh menarik.Oya, Bi Idah. Apakah postur Tuan Hendarto Hadi sama dengan Prof. Hary Jaiman? Maksudku sulit dibedakan?” tanya Madam Deborah ke Bi Idah.
“Ya Nyonya, mereka hampir sama. Mereka akan jadi sahabat yang cocok jika seandainya tak ada pertengkaran hebat ini. Dulu mereka teman baik.” sahut Bi Idah dengan muka agak perihatin.
“Benarkah? Ya sudahlah nasi sudah menjadi bubur. Kita tidak bisa berbuat apa-apa—“
Belum selesai Madam Deborah berkata, tiba-tiba ada suara berdebam yang cukup keras mengacaukan pembicaraan kami. Ku kira asalnya dari ujung ruangan. Tepatnya di dekat cermin. Namun, setelah kami ke sana, tidak ada apa-apa. Tidak ada benda-benda berjatuhan. Yang anehnya, Madam Deborah dan Dennis justru antusias saat tidak menemukan apa-apa di sana. Malahan Dennis sampai tiarap menempelkan kupingnya ke lantai keramik dingin sambil mengetok-ngetokkan tangannya ke lantai. Tapi, Madam Deborah hanya terbengong di depan cermin, memperhatikan bayangannya sendiri dan menusuk-nusukkan jari tangannya ke cermin. Aneh, ia seperti berharap menusuk bayangannya sendiri. Aku juga sepertinya melihat sunggingan senyum puas di bibir tipisnya.
Hii, aku agak bergidik melihat kelakukan manusia-manusia itu. Mereka tidak terlihat seperti manusia lagi saat melakukan hal itu. Setelah beberapa menit aku mematung melihat aksi mereka yang aneh. Akhirnya Madam Deborah angkat bicara.
“Baik, aku rasa cukup. Silakan telepon beberapa polisi ke sini Tuan. Aku rasa kami telah menemukan pemecahannya. Oya, selain Tuan Kuncoro, tidak ada lagi yang boleh keluar dari lab ini.” papar Madam Deborah dengan suara lantang.
****
            Setelah kami semua berkumpul di lab Paman, lengkap dengan tiga orang polisi. Ya, tentu saja dengan isteriku juga. Aku berhasil membujuknya kembali ke rumah horor ini untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Dari kemarin ia mengungsi ke rumah sepupunya di dekat sini. Kami semua membisu di kursimelingkar kami masing-masing. Meja bundar besar di lab kami gunakan untuk meletakkan tangan kami.
Akhirnya, Madam Deborah mulai memainkan skenario pemungkasnya. Kilatan matanya menandakan bahwa ia telah mencapai kemenangan. Beberapa detik kemudian akhirnya ia pun bergeming.
            “Ehem, Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya. Di sinilah kita sekarang. Saya akan menyampaikan fakta-fakta menarik dari kasus ini. Baiklah yang pertama soal pencuri itu. Begini, pencuri itu sungguh kreatif. Dia meninggalakan asap tebal setelah mencuri guna menakut-nakuti si penunggu rumah. Itu!” Madam Deborah menunjuk tabung Nitrogen cair yang berada dekat pintu. Setelah memberikan kode ke Dennis, Dennis langsung beranjak ke arah tabung-tabung itu.
            Dengan sigap dan sungguh berpengalaman, Dennis membuka tabung itu. Oya, tidak lupa setelah menggunakan sarung tangan yang ada di dekatnya.
            “Begini hadirin sekalian!” Dennis mengarahkan mulut tabung yang klepnya telah terbuka ke arah lantai, cairan Nitrogen itu tertumpah.
            “Wow!” pekik kami saat melihat asap tebal yang datang dari arah Dennis. Mulut kami hampir menganga, namun, Madam Deborah hanya tersenyum.
            “Begini Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya sekalian. Ini merupakan peristiwa kimawi. Ya, namanya penguapan. Gas Nitrogen cair akan segera kembali menyatu dengan udara sekeliling jika diperlakukan seperti itu.” ia kembali menunjuk Dennis yang sudah mulai menutup pertunjukannya. “Ya, kembali ke wujud gas tepatnya asapnya.”
            “Baik, Madam. Bagaimana dengan pencurinya? Kita kan tahu bahwa yang bisa membuka brankas itu hanya suamiku dan paman Darto?” tanya istriku dengan nada yang kurang puas.
            “Tenang sayang. Itu merupakan kejutannya.” Madam tertawa renyah menanggapi pertanyaan istriku. “Ya, memang Paman kalian yang mencuri perhiasannya. Ya, orang itu, bukan hantu itu. Paman kalian masih hidup.”
            Pernyataan Madam Deborah kembali membuat kami semua terkesiap. Aku sendiri merasa sangat kaget dan bingung. Bagaimana dengan mayat itu, bagaimana dengan pembunuhannya. Aku terus bertanya-tanya dalam hati.
            “Ya, Paman anda bukan dibunuh. Tetapi, dia membunuh. Mayat itu adalah mayat Profesor Hary Jaiman. Paman andalah yang melemparkan cairan kimia itu ke tubuhnya.”
            “Bagaimana mungkin, Profesor Hary Jaiman sekarang menjadi buronan, Nyonya.” sahut seorang Polisi Tua yang duduk paling ujung.
 “Anda keliru dalam pemeriksaan pertama kali, lihat jas lab itu, itu tidak terbakar seluruhnya. Seperti kata Tuan Kuncoro kebakaran itu menghanguskan seluruh tubuhnya—depan belakang. Ku rasa itu adalah jas Tuan Hendarto Hadi. Anda bisa kembali memeriksanya, lihat ujung kanan bawahnya. Ada tulisan namnya yang dibordir dengan benang hitam. Tapi, aku tidak mengapa jika Prof. Hendarto sampai bisa meninggalkan jejak.”
“Ya, benar. Dia benar, Nyonya itu benar.” sahut seorang Polisi muda kepada seniornya.
“Aduh, anda sangat mengerikan, Madam. Saya hanya ingin bertanya satu lagi. Di mana Paman saya sekarang?” tanya ku dengan ngotot.
“Sabar-sabar. Lihatlah trik keren ini. Saya akan memanggil Paman anda dulu.” Aku menatap Madam Deborah dengan penasaran. “ Baiklah Profesor Hendarto Hadi. Ini sudah selesai. Saya thu anda hanya membela diri dalam perkara ini. Dan saya juga tahu bahwa anda tidak rela harta anda di ambil oleh Keponakan anda satu-satunya. Jadi, naiklah dan merapat ketempat anda mengamati kami sedari tadi.” Madam Deborah berteriak agak keras saat kalimat terakhir. Matanya hanya tertuju ke ujung lab yang ditempeli cermin besar. “Dennis lakukanlah!” perintah Madam kepada Dennis.
Dennis kemudian berjalan ke arah saklar listrik. Kurasa ia hendak menyalakan kesemua lampu. Bi Idah kembali memeperingatkan dengan agak sedikit berteriak. Aku merasakan kecemasan dalam teriakannya itu. Namun, sudah terlambat, lampu sudah menyala. Betapa kagetnya kami semua saat melihat ke cermin.
“Paman!” teriakku dan isteri ku. Para Polisi menggeser kursinya dengan kasar dan terbengong melihat penampakan itu dan Bi Idah hanya tertunduk lesu.
“Ya, anda benar nyonya. Semua yang anda katakan adalah kenyataan. Saya yang membunuh Hary. Tapi saya hanya membela diri, seperti yang dikatakan oleh Nyonya barusan. Mengenai penggondolan brankas itu—saya memang tidak setuju jika harta itu jatuh ke keponakan saya. Saya harus membuatnnya takut untuk menyentuh barang-barang saya, dia harus pergi dari rumah ini. Saya tidak punya saudara lagi di dunia. Sudah cukup!” kata Pamanku dengan nada-nada datar.
“Tapi, Paman. Aku dan Dila tidak bermaksud mengambil harta paman. Kami bermaksud menyumbangkan emas dan perhiasan paman ke panti asuhan kami di desa. Dan rumah ini, akan kami jadikan rumah singgah bagi orang dari jauh jika ingin berobat ke kota. Itu saja.” Kata-kata itu kulontarkan dengan tatapan jujur. Ya, memang itu tujuan utama ku dan isteri.
“Baiklah cukup tuan-tuan. Saatnya Profesor mempertanggung jawabkan perbuatannya. Ayo anak-anak bantu aku.” Polisi tua itu memerintahkan anak buahnya meringkus paman. Paman menerima hal itu tanpa melawan. Beberapa menit kemudian mereka sudah pergi dari rumah ini. Menyisakan aku, Bi Idah, isteriku dan tentunya kedua pembaca peristiwa yang aku sewa.
“Mengapa anda bisa mengetahui jika paman ada di balik cermin itu. Aku merasa jika itu hanya cermin biasa. Tadi kita tidak melihat Paman di sana?” tanyaku dengan rasa penasaran yang tebal.
“Biarkanlah Dennis yang menjelaskan ini. Aku rasa dia suka yang seperti ini.” jawab Madam Deborah.
“Terima kasih Madam. Begini Tuan Kuncoro. Madam sepertinya sudah curiga dengan lampu remang-remang dan gelagat pembantu anda, Bi Idah. Ingat, dia melarang kita menyalakan saklar lampu lebih dari satu. Selain itu ia mengetokkan kakiknya keras-keras ke lantai padahal kita tidak melihat ada kecoa—ya, seperti yang dia katakan.”
“Lalu?” tanyaku lagi.
“Aduh Tuan anda belum sadar juga? Itu adalah cermin dua arah. Begini cara kerjanya. Jika kita melihat cermin itu di ruang gelap cermin itu akan menjadi cermin biasa yang hanya memantulkan bayangan si pengamat. Nah, itu loh alasan lampunya. Jika kita menyalakan semua lampu, ruangan di balik cermin—tempat persembunyian paman anda—akan kalah terang. Dan kita semua di ruang terang akan melihat menembus ke cermin itu. Ya, dia akan menjadi kaca tembus pandang, bukan cermin. Dan cara kami memastikannya adalah mendekatkan jari ke cermin. Jika jari dan bayangan jari kita yang terbentuk menempel satu sama lain tanpa dipisahkan jarak setebal cermin, maka kita bisa memastikannya sebagai cermin dua arah. Jika anda belum terlalu paham, lihatlah di buku-buku atau internet.” tutur Dennis panjang lebar.
“Aku mengerti sekarang. Jadi itu alasan Madam menusuk-nusukkan jarinya ke cermin. Dan apa gunanya ketukan kaki Bi Idah itu, tadi anda sempat menyinggung hal ini melalui bisikan, Madam.” tanya ku antusias.
“Begini.” kali ini Madam sendiri yang menjelaskan. “Pembantu ini adalah patner Paman anda. Dialah yang menggiring kita semua ke cerita hantu, ingat? Saya bisa melihatnya dari awal, ia adalah tipe pembantu yang setia pada majikan lamanya, meskipun sampai majikan itu mati. Saya suka itu, itulah yang menyebabkan saya tidak melaporkannya tadi pada polisi. Saya ingin dia ikut anda mengelola panti asuhan anda. Kurasa dia patut diandalkan.” mendengar pujian itu, Bi Idah tertunduk lesu. Mungkin ia agak malu. “Mengenai ketukan kaki itu—itu adalah kode untuk memanggil Paman anda di ruang bawah tanah, di bawah lab. Dia ingin tuannya memperhatikan kita, ya tak lupa menggagalkan tangan anda yang ingin menyalakan saklar supaya triknya tidak terbongkar.”
“Ya, sekarang sudah jelas. Misteri ini benar-benar sudah terbongkar. Saya akan segera meninggalkan rumah ini secepatnya. Biarlah pengadilan yang mengurus rumah ini. Terkhir kalinya, saya semakin heran dengan anda. Anggapan saya berubah sejak anda membongkar kasus ini. Awalnya saya menganggap anda tidak becus, wajarlah anda tahu alasannya. Tapi rekomendasi isteri saya ternyata tidak salah. Anda hebat.” pujianku tertuju pada wanita tua yang berdiri di sampingku.
“Yah, Tuan. Semua orang akan beranggapan seperti itu. Terutama yang muda-muda. Semua orang muda berpendapat jika orang tua itu tolol. Tapi, orang tua tahu jika orang muda tolol.” putus Madam Deborah.
“Hii, lama-lama anda semakin mirip seperti Miss Marple-nya Agatha Christie[1]” desis isteriku.


[1] Tokoh fiksi ciptaan Agatha Christie. Perawan Tua Desa yang bisa memecahkan kasus-kasus kriminal dengan cemerlang. Miss Marple muncul dalam beberapa buku laris Agatha Christie.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar