Senin, 28 Juli 2014

Posting baru setelah berbulan bulan menghilang dari blog ini. Mulai hari  ini, penulis akan mulai serius untuk kembali menulis tentang sesuatu yang menarik minat saya sebagai "tukang sok peduli". Memang sih dalam membuat blog ini kami beerdua sudah komit untuk rajin memposting tulisan, ya apa boleh dibuat ternyata untuk tiap hari update itu susah sekali. 

Untuk posting kali ini,saya sendiri masih bingung ingin menulis apa. Tapi hari-hari kebelakang ini banyak sekali peristiwa-peristiwa unik dan penting yang terjadi di sekitar kita. Mulai dari walkout nya Pak Prabowo dari proses pilpres kita hingga Gaza yang mulai memanans kembali. Tapi, untuk kali ini saya tidak dalam kondisi yang pas untuk membahas topik-topik berat itu. 

Hari ini saya hanya akan memberikan salam jumpa kembali saja bagi kita semua dan diri saya sendiri. Meskipun saya yakin bahwa blog ini belum begitu sempurna dan bisa dibilang belum ada pembacanya, saya yakin dengan adanya blog ini kami berdua diberikan media untuk sekedar menyalurkan opini kami berdua.




oke... that's all for today.. see you on tomorrow,. 

Minggu, 16 Maret 2014

Penangkapan Hantu Perampok?



Aku langsung menyerahkan surat kabar dua hari yang lalu ke meja kerja detektif wanita itu.
“Seorang ahli kimia, Prof.Hendarto Hadi, ditemukan tewas terpanggang di laboratorium pribadinya. Korban tewas setelah disiram cairan kimia korosif oleh rekan satu timnya yang berinisial HJ. Hingga kini pelaku masih buron. Keluarga…”
            “Ini koran tanggal 14 Oktober, Madam, coba anda simak berita terbarunya!”
16 OKTOBER 2013
Perkembangan dari kasus Profesor Hendarto Hadi semakin membuat polisi pusing. Belum diketemukannya pelaku pembuinuhan, kini polisi harus mengahadapi gangguan hantu dari sang profesor. Sang keponakan yang harus mewarisi harta kekayaannya, mulai diganggu oleh seorang hantu perampok, yang diduga adalah nya sendiri yang meninggal 2 hari yang lalu. Beredar kabar bawha sang  tidak rela mewariskan hartanya kepada sang keponakan.”
            “Hmm, Tuan. Sepertinya masalah ini akan berlangsung menarik. Kami akan berusaha membongkar kenyatraan dibalik peristiwa ini secepatnya. Ya—jika beruntung, kita mungkin bisa menangkap si hantu, hehe.” jawaban dari dari nenek tua ini sedikit membuatku bergidik. Rambutnya yang sudah seluruhnya putih membuatku semakin yakin bahwa ia tak taku apapun.
****
            Bi Idah dengan semangat membukakan pintu untuk tamu kami. Setelah beberapa lama bercakap-cakap, munculah seorang wanita tua yang mengenakan baju bermotif floral yang ceria dengan anggunnya. Oya, bajunya yang panjang hampir menutupi seluruh bagian kakinya yang boleh ku katakan cukup jenjang. Disampingnya, pria muda bersetelan necis berjalan berlenggok-lenggok bagaikan model di catwalk. Tapi tunggu, sepertinya gerakannya agak kemayu, ahh, sudahlah.
            “Selamat pagi Tuan Kuncoro Hadi, kami datang memenuhi permintaan anda. Oya, perkenalkan nama saya Dennis, asisten kepercayaan Madam Deborah—baik, silakan anda mulai menjabarkan rangkaian peristiwa yang terjadi. Aduh, maaf saya lupa. Gunakannlah penyampaian yang obyektif, ingat sifat subyektif hanya akan mengacaukan fakta yanga sebenarnya terjadi.”
Sambaran pemuda itu membuat aku sedikit kaget. Bagaimana tidak, tanpa basa basi ia langsung menyerangku ke topik. Begini, tadi, aku masih berjabat tangan dengannya. Bersama dengan itu ia langsung melontarkan kata-katanya dengan begitu cepatnya.
“Maafkan saya Tuan Kuncoro, kawan saya ini memang seperti itu. Sifatnya yang blak-blakan malah akan mempercepat penyelesaian kasus.” Madam Deborah sepertinya bisa membaca mataku. Dengan lembut ia kemudian duduk di sofa sambil menyilanggkan kakinya yang agak keriput. “Baik, sekarang bisa kita mulai? Mari jalan.” senyum manis tersungging di wajahnya yang masih lumayan cantik.
“Begini, pada tanggal 14 Pamanku tewas di lab kesayangannya. Badannya terbakar habis. Kami (Bi Idah, istriku, beberapa polisi, dan aku) sudah tidak bisa mengenalinya jasadnya. Ya, kurasa itu sudah cukup jelas, Prof. Hary Jaiman yang membunuhnya. Mereka memang sering sekali cekcok.”
“Seperti?” tanya si Dennis.
“Dari dulu mereka bersaing merebut perhatian sponsor untuk mendanani penelitian mereka. Pamanku rasanya telah mencuri ide Prof. Hary. Ia kemudian menggunakannya untuk menarik sponsor. Kurasa Prof. Hary sakit hati. Oya ini sms dari Prof. Hary kepada Paman—beberapa jam sebelum pembunuhan itu terjadi.”
Aku menunjukkan ponsel  ke depan kedua tamuku. Isinya seperti ini.
MARI KITA SELESAIKAN MASALAH INI HEN, DIAM KAU DI RUMAH AKU AKAN DATANG. BENAR-BENAR DATANG!!
“Ya, bukti ini cukup kuat. Polisi bisa menarik kesimpulan dengan mudah. Lanjutkan cerita anda Tuan.” sambung Madam Deborah.
“Ya—saya akan melanjutkan ke kasus hantu ini. Aku tidak percaya hantu—aku menganggap jika orang yang sudah mati tidak ada urusannya lagi dengan kita yang masih hidup. Ini juga harusnya berlaku bagi Paman. Begini, tanggal 15 aku dan istriku dipanggil oleh pengacara paman untuk menerima warisan dari Paman. Ya, kami memang satu-satunya sanak keluarga paman yang tersisa.” Aku diam sejenak dan memperhatikan mata Dennis, aku tahu apa yang akan ia tanya. “Ya, dia tidak menikah. Dia mengucilkan diri dari keluarga besar. Ya, kami tidak ada pilihan. Kami harus menerima warisannya, meskipun namaku tidak ditulis di surat wasiatnya. Oya—sampai di mana tadi?”
“Pemanggilan anda dan isteri.”
“Oya, setelah pengacara pergi. Kami kemudian mengecek isi brankas paman yang katanya penuh dengan kilauan perhiasan dan emas. Ah, ya, benar setelah ku buka, mulutku dan mulut istriku tidak bisa berhenti menganga. Banyak sekali!!.” aku berhenti untuk menarik napas. “Kami dengan segera menutup brankas tersebut, ya kami tidak kuat melihat benda berkilau-kilau itu dalam waktu lama—”
“Lebih singkat Tuan, maksud saya, lebih ke topik.” lagi-lagi anak ini menyemburku dengan kata-katanya yang tajam itu. Aku kembali menarik napas panjang.
“Ah, biarkan aku menyelesaikan ceritanya. Aku tahu apa yang harus kuceritakan—keesokan harinya di malamnya maksudku, isteriku membujukku untuk memindahkan beberapa batangan emas itu ke tempat lain. Ya, anda sekalian bisa menebak. Beberapa perhiasan dan batangan emas telah raib. Aku terdiam sejenak. Aku meyakinkan diriku telah mengunci brankas dengan benar. Satu lagi yang ingin kutambahkan. Yang tahu cara membuka brankas ini hanya keluarga besar Hadi saja. Nah, kita perlu ingat jika keluarga Hadi yang tersisa hanya aku dan Paman, sedangkan kita juga tahu bahwa Paman telah meninggal. Jadi kemungkinannya, jika bukan aku yang membuka brankas, ya pasti Pamanlah orangnya.”
“Apakah anda sudah yakin mengunci brankas dengan benar?” tanya Madam Deborah.
“Yakin seyakin, yakinnya. Isteriku jadi saksinya.”
“Bisa kulanjutkan?” dua anggukan serius mengikuti perkataanku. “Ya, kurasa nada bisa menebaknya kembali. Di malam berikutnya kami kembali membuka brankasnya. Ya, isinya kembali berkurang. Ini telah berlangsung 2 kali. Aku tidak tahu, apakah malam ini peristiwa ini akan terjadi lagi. Hantu ini, ia meneror kami rupanya. Tidak hanya dengan pencurian, tapi diikuti dengan asap tebal tiap malam hari, tiap terjadi pencurian. Sepertinya ia ingin menekankan efek teror hantu pada kami semua.”
“Hmm, sungguh menarik. Aku tidak yakin ada hantu pengutil brankas yang setelah mencuri akan beterbangan dengan meninggalkan asap-asap. Halah, aku seperti ingin tertawa.” wajah Dennis tampak bingung. Bukan seperti orang ingin tertawa seperti yang ia tuturkan.
“Jangan tertawa dulu sayangku, kita cerna cerita ini dulu.” tangan keriput Madam Deborah memukul manja asistennya yang kemayu itu. “Oya Tuan, saya ingin bertanya? Apakah anda yakin benar-benar terjadi pencurian? Begini, tadi anda bercerita jika anda dan isteri kaget saat melihat benda-benda berkilau itu, pendapat saya anda tidak akan tahu pasti berapa jumlah perhiasan yang ada dalam brankas itu.”
“Ya, aku sangat yakin. Pada hari pertama membuka brankas, aku mencocokkan isinya dengan daftar yang telah diberikan oleh pengacara Paman. Hmm, hasilnya cocok kok.”
“Bagaimana dengan asap itu?”
“Pada pencurian pertama kami tidak mengetahui ada asap. Yang memberitahu kami bahwa ada asap tebal adalah Bi Idah. Tapi yang kedua, kami bertiga melihat asap itu dengan mata kepala kami. Entah apa yang dipikirkan, Bi Idah mengarahkan kami untuk mengecek isi brankas lagi. Kami kemudian menemukan bahwa telah terjadi pencurian kedua. Kemudian, Bi Idah mengaitkan hal ini dengan hantu Paman yang mengambil kembali hartanya. Tentu saja, isteriku langsung histeris.”
“Baik, sudah cukup. Antarkan kami melihat brankas dan jalur yang dilalui si Hantu. Satu lagi, aku ingin melihat laboratorium mendiang Paman anda.” Bersamaan setelah itu, Madam Deborah terbangun dari posisinya semula dan kembali melemparkan senyum manis kepadaku.
Bergegas aku mengantarkan mereka ke brankas yang terletak di ruang tengah, di belakang ruang tamu tadi. Si Dennis mengecek brankas dam memastikan sangat sulit kemungkinan terjadinya perusakan dan teknik-teknik penghancuran lainnya. Setelah selesai, kami menyusuri jalur asap aneh tersebut. Dari ruang tengah mengambil jalur kiri ke koridor lantai satu yang cukup panjang. Jalan ini berujung tepat di lab Paman, sekaligus tempat asap itu berujung dan menghilang.
Setelah sampai di lab Paman, aku agak bergidik melihat lab pamanku. Seperti di adegan film horor yang menampilkan adegan pembunuhan di laboratorium, lengkap dengan peralatan kimia dan cermin besar di ujung ruangan yang bisa memantulkan seluruh bagian ruangan lab itu. Yang lebih mengerikan, ketika kita semakin masuk ke ruangan lab, langkah kami menjadi semakin bersuara. Ya, kami seperti menginjak lapisan tipis yang menutupi ruangan berongga. Hmm, yang pasti aku benci itu.
“Huh, rumah warisan ini menggunakan desain rumah Belanda ya? Aku sangat tertarik jika kita mungkin bisa menemukan ruang-ruang rahasia.  Heh sudahlah, aku ingin memastikan, kurasa asap itu berawal dari ruang tengah, ke koridor dan terakhir di ruangan lab ini.”
“Ya, tepat Madam asapnya berhenti di sini. Oya, mengenai pendapat anda tentang ruang rahasia, saya rasa mungkin memang benar ada ruangan rahasia di sini. Peninggalan Belanda kadang-kadang membuat kita terkaget. Namun, saya belum sempat mengeceknya.” jawabku dengan wajah penasaran.
Madam Deborah hanya mengangguk tanda sepakat dan kemudian kembali lagi ke topik utama pembicaraan.
“Dan anda bertiga mengamatin asapnya dari lantai dua. Beberapa saat kemudian kalian bertiga turun dan menyusuri jalur asap?”
“Ya, dituntun Bi Idah kami menelusuri jalurnya.”
“Huh, Pembantu anda ini—berani sekali untuk orang yang takut hantu. Oya, tadi di dekat pintu lab, saya melihat 2 tabung besar berisi gas nitrogen cair yang kelihatannya masih baru?”
“Ya itu masih baru Madam. Tepat datang tanggal 15 Oktober. Mungkin di pagi hari.” sambung Dennis. Kami sampai lupa jika ada pria kemayu ini di sini.
“Ah, benarkah? Kenapa mereka tidak tahu jika si pemesan sudah mati?”
“Maaf Madam, aku tidak mengetahui hal itu. Itu sudah tugas Bi Idah.” jawabku
Beberapa saat kemudian Bi Idah setengah berlari menghampiri kami. Aku heran kenapa minuman yang dibawanya tidak tumpah.
“Maafkan saya Tuan, Nyonya. Ini minumannya.” dengan sigap ia menaruh minuman di salah satu meja kayu. Namun, kembali dengan sigapnya ia menarik tanganku saat ingin menyalakan saklar lampu. ”Hati-hati Tuan, biar saya yang menyalakannya. Salah satu saklar di sini sering konslet. Nanti anda kesetrum.”  sebelum menyalakan lampu, ia agak terkaget melihat ke bawah. Mungkin ada kecoa, dengan agak termangu ia mengetok-ngetokkan hak sepatunya berharap bisa menjangkau si kecoa malang. “Nah, cukup satu lampu saja yang dinyalakan. Saya rasa sudah cukup terang”
“Oh, terima kasih Bi.” yah, syukurlah Bi Idah memberitahukan itu padaku. Tapi tunggu dulu, Madam Deborah sepertinya tidak percaya jika Bi Idah melihat kecoa. Dia terus-terusan mengamati gerak-gerik pembantu tua yang setia ini. Tapi, setelah ia melihat aku memperhatikannya, ia segera memalingkan pandangannya.
“Ooh, jadi di sana Paman anda meregang nyawa?” lagi-lagi anak muda ini mengejutkan aku. Kami tidak sadar jika ia sudah berada di sudut ruangan, tempat paman meninggal. Di sana masih cukup jelas terlihat kulit lantai keramik yang hangus dan terkelupas beberapa bagian.
“Oya, hampir aku lupa. Ada yang aneh dengan jas Paman. Aku heran, seharusnya, jasnya hangus terbakar.” tanyaku ke kedua orang unik ini.
“Maksud anda tuan?” tanya Dennis.
“Ya, sudah ku katakan sebelumnya, jika tubuh paman seluruhnya hangus terbakar. Sampai ke dalam pakaiannya, yah, maksudku kulitnya. Logikanya, jas itu harusnya hangus terbakar juga. Tapi, yang polisi temukan, jasnya hanya terbakar sebagian, tepatnya di bagian depan.”
“O, benarkah? Ini sungguh menarik.Oya, Bi Idah. Apakah postur Tuan Hendarto Hadi sama dengan Prof. Hary Jaiman? Maksudku sulit dibedakan?” tanya Madam Deborah ke Bi Idah.
“Ya Nyonya, mereka hampir sama. Mereka akan jadi sahabat yang cocok jika seandainya tak ada pertengkaran hebat ini. Dulu mereka teman baik.” sahut Bi Idah dengan muka agak perihatin.
“Benarkah? Ya sudahlah nasi sudah menjadi bubur. Kita tidak bisa berbuat apa-apa—“
Belum selesai Madam Deborah berkata, tiba-tiba ada suara berdebam yang cukup keras mengacaukan pembicaraan kami. Ku kira asalnya dari ujung ruangan. Tepatnya di dekat cermin. Namun, setelah kami ke sana, tidak ada apa-apa. Tidak ada benda-benda berjatuhan. Yang anehnya, Madam Deborah dan Dennis justru antusias saat tidak menemukan apa-apa di sana. Malahan Dennis sampai tiarap menempelkan kupingnya ke lantai keramik dingin sambil mengetok-ngetokkan tangannya ke lantai. Tapi, Madam Deborah hanya terbengong di depan cermin, memperhatikan bayangannya sendiri dan menusuk-nusukkan jari tangannya ke cermin. Aneh, ia seperti berharap menusuk bayangannya sendiri. Aku juga sepertinya melihat sunggingan senyum puas di bibir tipisnya.
Hii, aku agak bergidik melihat kelakukan manusia-manusia itu. Mereka tidak terlihat seperti manusia lagi saat melakukan hal itu. Setelah beberapa menit aku mematung melihat aksi mereka yang aneh. Akhirnya Madam Deborah angkat bicara.
“Baik, aku rasa cukup. Silakan telepon beberapa polisi ke sini Tuan. Aku rasa kami telah menemukan pemecahannya. Oya, selain Tuan Kuncoro, tidak ada lagi yang boleh keluar dari lab ini.” papar Madam Deborah dengan suara lantang.
****
            Setelah kami semua berkumpul di lab Paman, lengkap dengan tiga orang polisi. Ya, tentu saja dengan isteriku juga. Aku berhasil membujuknya kembali ke rumah horor ini untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Dari kemarin ia mengungsi ke rumah sepupunya di dekat sini. Kami semua membisu di kursimelingkar kami masing-masing. Meja bundar besar di lab kami gunakan untuk meletakkan tangan kami.
Akhirnya, Madam Deborah mulai memainkan skenario pemungkasnya. Kilatan matanya menandakan bahwa ia telah mencapai kemenangan. Beberapa detik kemudian akhirnya ia pun bergeming.
            “Ehem, Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya. Di sinilah kita sekarang. Saya akan menyampaikan fakta-fakta menarik dari kasus ini. Baiklah yang pertama soal pencuri itu. Begini, pencuri itu sungguh kreatif. Dia meninggalakan asap tebal setelah mencuri guna menakut-nakuti si penunggu rumah. Itu!” Madam Deborah menunjuk tabung Nitrogen cair yang berada dekat pintu. Setelah memberikan kode ke Dennis, Dennis langsung beranjak ke arah tabung-tabung itu.
            Dengan sigap dan sungguh berpengalaman, Dennis membuka tabung itu. Oya, tidak lupa setelah menggunakan sarung tangan yang ada di dekatnya.
            “Begini hadirin sekalian!” Dennis mengarahkan mulut tabung yang klepnya telah terbuka ke arah lantai, cairan Nitrogen itu tertumpah.
            “Wow!” pekik kami saat melihat asap tebal yang datang dari arah Dennis. Mulut kami hampir menganga, namun, Madam Deborah hanya tersenyum.
            “Begini Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya sekalian. Ini merupakan peristiwa kimawi. Ya, namanya penguapan. Gas Nitrogen cair akan segera kembali menyatu dengan udara sekeliling jika diperlakukan seperti itu.” ia kembali menunjuk Dennis yang sudah mulai menutup pertunjukannya. “Ya, kembali ke wujud gas tepatnya asapnya.”
            “Baik, Madam. Bagaimana dengan pencurinya? Kita kan tahu bahwa yang bisa membuka brankas itu hanya suamiku dan paman Darto?” tanya istriku dengan nada yang kurang puas.
            “Tenang sayang. Itu merupakan kejutannya.” Madam tertawa renyah menanggapi pertanyaan istriku. “Ya, memang Paman kalian yang mencuri perhiasannya. Ya, orang itu, bukan hantu itu. Paman kalian masih hidup.”
            Pernyataan Madam Deborah kembali membuat kami semua terkesiap. Aku sendiri merasa sangat kaget dan bingung. Bagaimana dengan mayat itu, bagaimana dengan pembunuhannya. Aku terus bertanya-tanya dalam hati.
            “Ya, Paman anda bukan dibunuh. Tetapi, dia membunuh. Mayat itu adalah mayat Profesor Hary Jaiman. Paman andalah yang melemparkan cairan kimia itu ke tubuhnya.”
            “Bagaimana mungkin, Profesor Hary Jaiman sekarang menjadi buronan, Nyonya.” sahut seorang Polisi Tua yang duduk paling ujung.
 “Anda keliru dalam pemeriksaan pertama kali, lihat jas lab itu, itu tidak terbakar seluruhnya. Seperti kata Tuan Kuncoro kebakaran itu menghanguskan seluruh tubuhnya—depan belakang. Ku rasa itu adalah jas Tuan Hendarto Hadi. Anda bisa kembali memeriksanya, lihat ujung kanan bawahnya. Ada tulisan namnya yang dibordir dengan benang hitam. Tapi, aku tidak mengapa jika Prof. Hendarto sampai bisa meninggalkan jejak.”
“Ya, benar. Dia benar, Nyonya itu benar.” sahut seorang Polisi muda kepada seniornya.
“Aduh, anda sangat mengerikan, Madam. Saya hanya ingin bertanya satu lagi. Di mana Paman saya sekarang?” tanya ku dengan ngotot.
“Sabar-sabar. Lihatlah trik keren ini. Saya akan memanggil Paman anda dulu.” Aku menatap Madam Deborah dengan penasaran. “ Baiklah Profesor Hendarto Hadi. Ini sudah selesai. Saya thu anda hanya membela diri dalam perkara ini. Dan saya juga tahu bahwa anda tidak rela harta anda di ambil oleh Keponakan anda satu-satunya. Jadi, naiklah dan merapat ketempat anda mengamati kami sedari tadi.” Madam Deborah berteriak agak keras saat kalimat terakhir. Matanya hanya tertuju ke ujung lab yang ditempeli cermin besar. “Dennis lakukanlah!” perintah Madam kepada Dennis.
Dennis kemudian berjalan ke arah saklar listrik. Kurasa ia hendak menyalakan kesemua lampu. Bi Idah kembali memeperingatkan dengan agak sedikit berteriak. Aku merasakan kecemasan dalam teriakannya itu. Namun, sudah terlambat, lampu sudah menyala. Betapa kagetnya kami semua saat melihat ke cermin.
“Paman!” teriakku dan isteri ku. Para Polisi menggeser kursinya dengan kasar dan terbengong melihat penampakan itu dan Bi Idah hanya tertunduk lesu.
“Ya, anda benar nyonya. Semua yang anda katakan adalah kenyataan. Saya yang membunuh Hary. Tapi saya hanya membela diri, seperti yang dikatakan oleh Nyonya barusan. Mengenai penggondolan brankas itu—saya memang tidak setuju jika harta itu jatuh ke keponakan saya. Saya harus membuatnnya takut untuk menyentuh barang-barang saya, dia harus pergi dari rumah ini. Saya tidak punya saudara lagi di dunia. Sudah cukup!” kata Pamanku dengan nada-nada datar.
“Tapi, Paman. Aku dan Dila tidak bermaksud mengambil harta paman. Kami bermaksud menyumbangkan emas dan perhiasan paman ke panti asuhan kami di desa. Dan rumah ini, akan kami jadikan rumah singgah bagi orang dari jauh jika ingin berobat ke kota. Itu saja.” Kata-kata itu kulontarkan dengan tatapan jujur. Ya, memang itu tujuan utama ku dan isteri.
“Baiklah cukup tuan-tuan. Saatnya Profesor mempertanggung jawabkan perbuatannya. Ayo anak-anak bantu aku.” Polisi tua itu memerintahkan anak buahnya meringkus paman. Paman menerima hal itu tanpa melawan. Beberapa menit kemudian mereka sudah pergi dari rumah ini. Menyisakan aku, Bi Idah, isteriku dan tentunya kedua pembaca peristiwa yang aku sewa.
“Mengapa anda bisa mengetahui jika paman ada di balik cermin itu. Aku merasa jika itu hanya cermin biasa. Tadi kita tidak melihat Paman di sana?” tanyaku dengan rasa penasaran yang tebal.
“Biarkanlah Dennis yang menjelaskan ini. Aku rasa dia suka yang seperti ini.” jawab Madam Deborah.
“Terima kasih Madam. Begini Tuan Kuncoro. Madam sepertinya sudah curiga dengan lampu remang-remang dan gelagat pembantu anda, Bi Idah. Ingat, dia melarang kita menyalakan saklar lampu lebih dari satu. Selain itu ia mengetokkan kakiknya keras-keras ke lantai padahal kita tidak melihat ada kecoa—ya, seperti yang dia katakan.”
“Lalu?” tanyaku lagi.
“Aduh Tuan anda belum sadar juga? Itu adalah cermin dua arah. Begini cara kerjanya. Jika kita melihat cermin itu di ruang gelap cermin itu akan menjadi cermin biasa yang hanya memantulkan bayangan si pengamat. Nah, itu loh alasan lampunya. Jika kita menyalakan semua lampu, ruangan di balik cermin—tempat persembunyian paman anda—akan kalah terang. Dan kita semua di ruang terang akan melihat menembus ke cermin itu. Ya, dia akan menjadi kaca tembus pandang, bukan cermin. Dan cara kami memastikannya adalah mendekatkan jari ke cermin. Jika jari dan bayangan jari kita yang terbentuk menempel satu sama lain tanpa dipisahkan jarak setebal cermin, maka kita bisa memastikannya sebagai cermin dua arah. Jika anda belum terlalu paham, lihatlah di buku-buku atau internet.” tutur Dennis panjang lebar.
“Aku mengerti sekarang. Jadi itu alasan Madam menusuk-nusukkan jarinya ke cermin. Dan apa gunanya ketukan kaki Bi Idah itu, tadi anda sempat menyinggung hal ini melalui bisikan, Madam.” tanya ku antusias.
“Begini.” kali ini Madam sendiri yang menjelaskan. “Pembantu ini adalah patner Paman anda. Dialah yang menggiring kita semua ke cerita hantu, ingat? Saya bisa melihatnya dari awal, ia adalah tipe pembantu yang setia pada majikan lamanya, meskipun sampai majikan itu mati. Saya suka itu, itulah yang menyebabkan saya tidak melaporkannya tadi pada polisi. Saya ingin dia ikut anda mengelola panti asuhan anda. Kurasa dia patut diandalkan.” mendengar pujian itu, Bi Idah tertunduk lesu. Mungkin ia agak malu. “Mengenai ketukan kaki itu—itu adalah kode untuk memanggil Paman anda di ruang bawah tanah, di bawah lab. Dia ingin tuannya memperhatikan kita, ya tak lupa menggagalkan tangan anda yang ingin menyalakan saklar supaya triknya tidak terbongkar.”
“Ya, sekarang sudah jelas. Misteri ini benar-benar sudah terbongkar. Saya akan segera meninggalkan rumah ini secepatnya. Biarlah pengadilan yang mengurus rumah ini. Terkhir kalinya, saya semakin heran dengan anda. Anggapan saya berubah sejak anda membongkar kasus ini. Awalnya saya menganggap anda tidak becus, wajarlah anda tahu alasannya. Tapi rekomendasi isteri saya ternyata tidak salah. Anda hebat.” pujianku tertuju pada wanita tua yang berdiri di sampingku.
“Yah, Tuan. Semua orang akan beranggapan seperti itu. Terutama yang muda-muda. Semua orang muda berpendapat jika orang tua itu tolol. Tapi, orang tua tahu jika orang muda tolol.” putus Madam Deborah.
“Hii, lama-lama anda semakin mirip seperti Miss Marple-nya Agatha Christie[1]” desis isteriku.


[1] Tokoh fiksi ciptaan Agatha Christie. Perawan Tua Desa yang bisa memecahkan kasus-kasus kriminal dengan cemerlang. Miss Marple muncul dalam beberapa buku laris Agatha Christie.

Minggu, 23 Februari 2014

CONTOH PIDATO BAHASA INDONESIA: GO GREEN



Om Swastiastu
Bapak Guru yang saya hormati,
Serta rekan-rekan yang saya banggakan,
Di hari yang berbahagia ini marilah kita memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, berkat limpahan karunia dan rahmat-Nya lah kita bisa merasakan kesehatan dan kebahagagiaan hingga saat ini.
Bapak Guru yang saya hormati, dalam kesempatan yang baik ini perkenankanlah saya menyampaikan pidato dengan tema “Tak Ada Alasan Pusing untuk Go Green”.
Rekan-rekan sekalian, seperti yang kita ketahui bersama, Go Green adalah suatu gerakan yang bertujuan melestarikan dan menciptakan suasana lingkungan tinggal yang lebih baik bagi semua mahluk (manusia, flora, fauna dan seluruh ciptaan Tuhan lainnya seperti air, tanah, udara dan seterusnya). Mungkin alasan untuk ber-Go Green ria sudah terlalu basi untuk dibicarakan. Bebagai media massa sudah setiap detik berkoar-koar membahas topik ini. Belum lagi berbagai komunitas dan aktivis yang tak kenal letih untuk bersosialisasi dan mengambil tindakan langsung dalam gerakan Go Green. Demi menghargai usaha para pemerhati lingkungan ini, perkenakanlah saya untuk kembali menyampaikan alasan mengapa kita harus Go Green.
Bumi sudah mulai menua, butuh perawatan, hal ini malah diikuti dengan kehebohan manusia menciptakan manusia-manusia baru. Menurut para ahli, angka natalitas dunia terus meningkat pesat. Nah, parahnya, sumber energi yang ada tidak mencukupi angka kelahiran yang membengkak ini. Selain itu, pemanasan global telah terjadi dimana-mana, akibat dari penggunaan energi yang berlebihan tanpa dibarengi oleh tindakan penyelamatan konservasi alam. Banjir, tanah longsor, cuaca yang tidak menentu lewat perubahan iklim yang ekstrem, macet, polusi, dll. adalah sedikit kisah dari derita penghuni bumi akhir-akhir ini. Ya, itu yang sudah biasa kita alami bukan? Jika hal ini terus dibiarkan kita bukan hanya sekedar menjadi ikan pepes, tapi ikan pepes yang gosong sehitam-hitamnya. Bagaimana tidak gosong, suhu di bumi lama-kelamaan menjadi sepanas api kompor gas elpiji. Tapi ketahuilah, ungkapan populer ini masih kalah hebat dengan dampak utama jika kita masih terus menjadi manusia yang pura-pura buta. Hasil dari proses pemanasan global adalah KIAMAT.
Tapi ini semua belum terlambat, dalam perhitungan saya harapan hidup kita, kalau boleh dibilang tidak terlalu banyak, yakni masih sekitar 49%. Ada beragam usaha yang masih bisa kita lakukan. Tidak perlu melakuka usaha-usaha yang rumit atau mahal atau menggunakan teknologi canggih. Kita bisa memulainya dari kehidupan masing-masing, tidak ada salahnya bertindak sederhana, ya cukup dan sangat sederhana untuk mengajak diri sendiri dan orang di sekitar kita untuk menyelamatkan bumi, menjaga konservasi alam ini, dan tentu saja menghemat energi bumi. Diharapkan Go Green bisa menyatu di diri kita dan tingkah laku serta kebiasaan kita. Pilih-pilih hal yang berguna tanpa terus dibutakan konsumerisme adalah hal terbaik yang bisa kita lakukan.
Bapak Guru dan rekan-rekan sekalian yang saya cintai, adapun hal-hal yang bisa kita lakukan adalah sebagai berikut.
1.      Menghemat energi untuk menghemat uang.
·         Bijak mengatur pemanas dan pendingin ruangan.
·         Pakai bohlam lampu neon yang hemat energi daripada lampu bola pijar yang lebih boros energy.
·         Cabut peralatan saat saat tidak menggunakannya.
·         Cuci pakaian dalam air dingin jika memungkinkan. Sebanyak 85 persen dari energi yang digunakan untuk mesin cuci pakaian pergi ke pemanas air.
·         Gunakan rak pengeringan atau jemuran untuk mengeringkan pakaian daripada menggunakan mesin untuk mengeringkan.
2.      Hemat air untuk menghemat uang.
·         Ambil pancuran lebih pendek untuk mengurangi penggunaan air. Ini akan menurunkan air dan tagihan pemanas juga jika kita memakai pemanas air.
·         Pastikan memiliki aerator keran pada setiap keran. Peralatan ini menghemat energy panas dan air, sekaligus menjaga tekanan air yang tinggi.
·         Pilih tanaman-tanaman hiasan di rumah yang bisa tahan panas, alias tidak memerlukan banyak air untuk disiram.
3.      Kurangi gas = lebih banyak uang (dan kesehatan yang lebih baik).
·         Berjalan atau bersepeda untuk bekerja. Ini menghemat biaya bahan bakar dan parker.Serta juga meningkatkan kesehatan jantung kita dan mengurangi risiko obesitas.
·         Pertimbangkan posisi akomodasi dan sisi lokasi  jika kita tinggal jauh dari pekerjaan kita. Memungkinkan kah kita bisa bergerak lebih dekat. Bahkan jika ini berarti membayar sewa lebih, bisa menghemat uang dalam jangka panjang.
4.      Makanlah dengan pintar!
·         Jika anda makan daging, tambahkan satu kali makan tanpa daging dalam seminggu. Harga daging akan sangat terlihat lebih mahal jika kita juga mempertimbangkan biaya lingkungan dan kesehatan yang terkait.
·         Beli produk lokal, lebih tepatnya beli sayuran, buah dan daging dari petani dan perternak lokal. Pembelian dari petani setempat dapat meningkatkan juga taraf perekonomian lokal.
·         Apapun diet kita, berdietlah secara wajar. Apalagi untuk mengkonsumsi makanan dalam kemasan, pertimbangkan limbahnya.
·         Analisa menu makanan kita sehari-hari, selain menghemat uang, konservasi alam dari kemasan, juga untuk kesehatan kita.
5.      Air dalam kemasan? Pikir lagi.
·         Gunakan air filter untuk memurnikan air keran daripada membeli air kemasan. Tidak hanya air kemasannya yang mahal, tapi menghasilkan sejumlah besar limbah wadah.
·         Bawalah botol air dapat digunakan kembali, sebaiknya aluminium bukan plastik, saat kita bepergian atau di tempat kerja.
·         Kalaupun terpaksa minum air dalam kemasan, buanglah sampah kemasan tersebut di tempat sampah daur ulang.

6.      Berpikirlah sebelum membeli.
·         Jangan asal ikut trend yang mahal dan mengancam lingkungan. 
·         Check out garage sale, toko barang bekas, dan toko-toko unik dan antik untuk pakaian dan barang-barang sehari-hari lainnya.
·         Ketika melakukan pembelian, pastikan kita tahu apa yang "Good Stuff" dan apa yang tidak.
7.      Pinjam daripada membeli.
·         Pinjam dari perpustakaan daripada membeli buku pribadi dan film (DVD, VCD). Ini menghemat uang, belum lagi tinta dan kertas yang masuk ke dalam percetakan untuk mencetak buku-buku baru.
·         Berbagi alat-alat listrik dan peralatan lainnya.
8.      Belilah dengan lebih cerdas
·         Membeli dalam jumlah besar. Pembelian makanan dari tempat grosir dapat menghemat uang dan kemasan. Dengan jumlah yang sesuai juga tentunya.
·         Memakai pakaian yang tidak perlu di dry-clean di laundry. Hal ini menghemat uang dan penggunaan bahan kimia beracun.
·         Investasi untuk barang yang berkualitas tinggi untuk produk tahan lama. Kita mungkin membayar lebih sekarang, tapi kita akan bahagia saat kita tidak perlu mengganti item tersebut secara sering.
9.      Jauhkan elektronik dari tempat sampah!
·         Jaga selalu HP, komputer, dan elektronik lainnya selama mungkin.
·         Donasi kan barang elektronik tersebut kalau kita ingin mengganti. Limbah elektronik banyak mengandung merkuri.
·         Mencari informasi dimana bisa mendaur ulang barang elektronik, sehingga semua limbah elektronik tersebut aman.
10.  Buatlah persediaan pembersihan sendiri.
·         Cari informasi tentang bahan-bahan alami yang dapat digunakan sebagai pembersih, seperti baking soda, cuka, lemon, dan sabun. Dengan memakai pembersih sendiri ini, itu artinya menghemat uang, waktu, dan kemasan-belum lagi kualitas udara dalam ruangan kita.

Rekan-rekan sekalian, itulah usaha-usaha sederhana yang bisa kita lakukan. Deretan usaha tersebut setidaknya mampu menyadarkan kita bahwa bukan tidak mungkin kita menjalankan Go Green di kehidupan sehari-hari. Namun, yang selalu perlu diingat adalah jadikan tindakan-tindakan tersebut sebagai kebiasaan yang disebar luaskan.Segeralah sadar dan kembalilah ke jalan yang benar! Jangan mati bersama-sama, tapi hidup sejahterlahal di dunia secara bersama-sama.
Demikian penyampaian saya mengenai tindakan Go Green. Semoga informasi ini dapat memberi manfaat bagi kita semua. Jika ada kesalahan-kesalahan kata, mohon dimaafkan. Akhir kata saya ucapkan terima kasih dan Prama Santhi.  
Om Santhi, santhi, santhi Om

Kortisol, dari Berbagai Sumber



Cara Menurunkan Kortisol (Hormon Penyebab Stress)

 Saat kita dalam keadaan stres, tubuh mengeluarkan hormon stres yang disebut kortisol. Hormon ini bertugas menjadi tameng tubuh di saat krisis itu. Tapi pelepasan hormon kortisol ini mengakibatkan terjadinya perubahan proses metabolisme tubuh. Kortisol ini memicu ketidaknormalan kadar gula darah. Hormon ini pun mempercepat penyusutan tulang yang bisa menyebabkan pengeroposan tulang atau osteoporosis. Tak hanya itu, kadar kortisol yang berlebihan juga mengganggu sistem kekebalan tubuh. Itulah sebabnya orang yang stres mudah terserang penyakit. Dan yang paling ditakutkan banyak wanita, kortisol yang berlebih bisa memicu naiknya berat badan. Beberapa cara relaksasi bisa menurunkan kadar kortisol dan membantu Anda melewati masa-masa stres. Misalnya bermeditasi. Tapi berdasarkan penelitian, cara paling efektif menurunkan kadar hormon stres adalah dengan mendengarkan musik. Efek mendengarkan musik adalah membantu menenangkan gelombang otak, terlebih saat Anda stres.

Peneliti dari Osaka Medical Center di Jepang mengungkapkan, orang yang berada di ruang dengan alunan musik kadar kortisolnya lebih rendah 66% daripada orang yang ada di ruang tanpa suara. Selain dengan mendengarkan musik, simak juga cara efektif lainnya untuk menurunkan hormon stres. • Tidur cukup: Pangkas kortisol 50% Saat Anda tidur kurang dari delapan jam seperti yang dianjurkan ahli kesehatan, kadar kortisol naik hingga 50%. • Minum teh: Pangkas kortisol 47% Sudah jamak diketahui teh bisa membantu tubuh mengatasi stres. Andrew Steptoe, PhD, dari University College London melakukan studi dan membuktikan bahwa orang yang meminum teh terutama teh hitam bisa menurunkan kadar stresnya hingga 47%. Kandungan polifenol dan flavonoid dalam teh bisa memberi efek relaks. • Meditasi atau kegiatan spiritual: Pangkas kortisol 25% Dengan melakukan meditasi saat beryoga atau mendekatkan diri pada Tuhan, Anda bisa menurunkan kadar hormon stres. Penelitian University of Mississippi mengungkapkan, saat Anda dalam kondisi tenang secara spiritual, hormon stress bisa turun 25%. • Makan permen: Pangkas kortisol 12-16% Menurut penelitian Northumbria University di Inggris, orang yang mengunyah permen bisa menurunkan kadar kortisolnya hingga 16% daripada yang tidak makan permen. 

MINGGU, 12 MEI 2013, HTTP://YANDKIDD.BLOGSPOT.COM/2013/05/CARA-MENURUNKAN-KORTISOL-HORMON.HTML 


Intisari-Online.com - Kenali dulu apa itu hormon kortisol. Kortisol adalah jenis hormon steroid yang dihasilkan di korteks adrenal yang terletak di atas ginjal. Setiap hari dihasilkan 40 - 80 µmol hormon kortisol. Hormon ini menyebar dalam plasma dengan tiga cara, yaitu berupa kortisol bebas, kortisol terikat protein, dan kortisol metabolit. Hormon kortisol bekerja dalam tubuh manusia melawan rasa sakit, luka, infeksi, kepanasan, kedinginan, alergi, kekurangan oksigen, lapar, dan faktor-faktor yang meningkatkan suhu tubuh.
Di luar itu, kortisol mengatur tekanan darah dan sistem kekebalan tubuh saat tubuh mengalami gangguan fisik atau stres. Stres dapat menyebabkan tubuh kita memproduksi terlalu banyak hormon ini. Alih-alih membantu keseimbangan tubuh, jika produksinya berlebihan, kortisol justru menyebabkan banyak permasalahan, seperti stres, gangguan tidur, membuat tubuh rentan terhadap infeksi, kelainan gula darah, dan bertambahnya berat tubuh.


Kendalikan Kortisol, Si Hormon Stres

author : Astri Apriyani
Monday, 23 April 2012, http://intisari-online.com/read/kendalikan-kortisol-si-hormon-stres
Namun jangan dulu khawatir. Kortisol bisa dikendalikan. Ini beberapa solusi efektif yang tidak terlalu memakan energi dan usaha.
  • Teh hitam

    Sediakan selalu teh hitam. Ketika keseharian sudah mulai membuat Anda stres, luangkan waktu untuk menikmati teh hitam Anda tersebut. Menurut penelitian, kadar kortisol dalam tubuh ketika meminum black tea cenderung turun hingga 47% hanya dalam waktu satu jam. Perbedaannya sungguh signifikan dari mereka yang meminum teh biasa; hanya turun 27%.
  • Dekati apa pun yang lucu
    Salah satunya adalah habiskan waktu sejenak dengan teman-teman Anda yang lucu. Tawa diketahui mampu mengurangi kadar kortisol tubuh hampir setengah. Cara lain, Anda bisa memilih film-film atau video lucu.
  • Dengarkan musik

    Musik memiliki efek yang bisa menenangkan otak, terutama saat tingkat kortisol Anda tinggi dan sedang di dalam ambang stres. Kiat: buat daftar lagu dalam alat musik Anda - baik di laptop, iPod, ponsel, atau MP3 player - sesuai dengan selera Anda. Biasanya sukses mereduksi kortisol.
  • "Om"

    Anda pasti tahu perihal kata "om" yang selalu diucap dalam prosesi meditasi umat Budha. Dalam penelitian di Thailand selama 6 bulan, "om" sukses menurunkan, baik kortisol atau tekanan darah.
  • Jaga pola tidur
    Dianjurkan, Anda sebaiknya tidur lebih awal, atau tidur siang juga baik. Shawn Talboot (The Cortisol Connection) menyatakan, jika Anda kurang tidur, kadar kortisol Anda akan 50% lebih banyak di aliran darah daripada mereka yang tidur cukup.

CONTOH PIDATO BAHASA BALI (copas dari blog lain) hanya membagi:



Om Swastiastu
Bapak guru sane dahat wangiang titiang
Punika taler para sawitra sawitra makesami
   Sedurung titiang nglantur matur atur, Ngiring sareng sami ngaturang suksemaning manah pamekas majeng ring Ida Sang Hyang Widhi Wasa, melarapan antuk pasuecan ida, iraga sareng sami prasida makumpul iriki, manggihin karahayuan sekadi mangkin.
   Bapak  guru sane dahat wangiang titiang
Ring galahe sane becik puniki, lugrayang titiang matur samatra nganinin indik “Ngiring Rajegang Basa Bali”.
   Kawentenan pulo Baline pinaka pulo wisata budaya sane sampun kaloktah doh kantos ke dura Negara. Sampun sami uning tur pawikan, punika sami ngawinang jagat Baline kaparinama olih para janane "pulau seribu pura, pulau dewata, pulau surga utawi the last paradise". Napi sane ngawinang pulau Baline kaparinama asapunika?
   Sane ngawinang pulau Baline kaparinama asapunika tur kasenengin olih para janane boyaja tios, punika santukan keasrian palemahan pulau Baline, katuku malih antuk seni lan budaya maka miwah para jana Baline sane ngandap kasor utawi kuma warga, sami punika kadasarin antuk agama Hindu sane pinaka dasar mapineh jatma Baline. Nepek pisan ring tatuek miwah pamarginnyane minakadi panca yadnya sane kabaos ring kecap sastra agama. Punika kamanah antuk titiang ngawinang jagat Baline kasub ka dura Negara.
   Sane mangkin menawita majalaran sane sampun odar titiang. Pinunas titiang ring Iratu ida dane sareng sami ngiring dadabin indik kasukertan jagat Baline mangda kayang kawekas Rajeg lan lestari.
   Silih tunggil sane kanggon nguratang tur ngewerdiang seni budaya inggih punika nenten sios wantah Basa Bali druene sane pinaka tetamian utawi warisan saking leluhur iragane jatma Bali, punika ngawinang iraga patut bangga dados putra-putri Bali, pinunas titiang sumangdane budayane nenten rusak tur punah.
   Mangdane nenten iraga kabaos "Kadi katak sane wenten ring sor tunjunge", I kekupu saking doh ipun ngrasayang kamiikan ipun i sekar tunjung, sakewanten I katak yadiastun nampek ring genahe punika, setata nyongkok nenten ngerasayang kamiikan i sekar tunjung sane kalintang ngulangunin.
   Suksmanipun, iraga jagat Baline akeh pisan madue seni budaya, sane luihin utama kabaos adiluhung, ngawinang akeh parajanane saking dura Negara meled pisan manah ipun ngantenang seni budaya druene, sakewanten iraga sane magenah ring Bali nenten pati rungu kapining budaya druene, mangda nenten kadi asapunika.
    Basa Baline silih tunggil pinaka pangeling iraga dados jatma Bali, punika sane mawinang iraga mangda tetep ngangge basa Bali rikalaning mabaos sajeroning pagububan utawi pasawitran. Yening iraga nenten ngangge basa Bali druene sinah kesujatian iraga dados jatma Bali ical utawi ilang.
    Inggih ida dane sane tresna sihin titiang.
Yadiastun sane mangkin makueh pengaruh-pengaruh sane makta budaya miwah seni sane jaga nyaihin wiadin munahang seni budaya Baline . Sakewanten yening sampun iratu ida dane sareng sami eling ring kawentenan sastra Bali prasida antuk nyaringin pengaruh seni budaya sane jaga ngrangsuk ring sejeroning budaya Baline.
    Mawanti wanti titiang mapinunas ring iratu ida dane sareng sami mangda ngangge basa Bali druene mangda tetep Rajeg tur Lestari.

Om santih santih santih Om


~DS