Aku langsung menyerahkan surat
kabar dua hari yang lalu ke meja kerja detektif wanita itu.
“Seorang ahli
kimia, Prof.Hendarto Hadi, ditemukan tewas terpanggang di laboratorium
pribadinya. Korban tewas setelah disiram cairan kimia korosif oleh rekan satu
timnya yang berinisial HJ. Hingga kini pelaku masih buron. Keluarga…”
“Ini koran tanggal 14 Oktober,
Madam, coba anda simak berita terbarunya!”
“16 OKTOBER 2013
Perkembangan dari
kasus Profesor Hendarto Hadi semakin membuat polisi pusing. Belum
diketemukannya pelaku pembuinuhan, kini polisi harus mengahadapi gangguan hantu
dari sang profesor. Sang keponakan yang harus
mewarisi harta kekayaannya, mulai diganggu oleh seorang hantu perampok,
yang diduga adalah nya sendiri yang meninggal 2 hari yang lalu. Beredar kabar
bawha sang tidak rela mewariskan
hartanya kepada sang keponakan.”
“Hmm, Tuan. Sepertinya masalah ini
akan berlangsung menarik. Kami akan berusaha membongkar kenyatraan dibalik
peristiwa ini secepatnya. Ya—jika beruntung, kita mungkin bisa menangkap si
hantu, hehe.” jawaban dari dari nenek tua ini sedikit membuatku bergidik.
Rambutnya yang sudah seluruhnya putih membuatku semakin yakin bahwa ia tak taku
apapun.
****
Bi Idah dengan semangat membukakan
pintu untuk tamu kami. Setelah beberapa lama bercakap-cakap, munculah seorang
wanita tua yang mengenakan baju bermotif floral
yang ceria dengan anggunnya. Oya, bajunya yang panjang hampir menutupi
seluruh bagian kakinya yang boleh ku katakan cukup jenjang. Disampingnya, pria
muda bersetelan necis berjalan berlenggok-lenggok bagaikan model di catwalk. Tapi tunggu, sepertinya
gerakannya agak kemayu, ahh, sudahlah.
“Selamat pagi Tuan Kuncoro Hadi,
kami datang memenuhi permintaan anda. Oya, perkenalkan nama saya Dennis,
asisten kepercayaan Madam Deborah—baik, silakan anda mulai menjabarkan
rangkaian peristiwa yang terjadi. Aduh, maaf saya lupa. Gunakannlah penyampaian
yang obyektif, ingat sifat subyektif hanya akan mengacaukan fakta yanga
sebenarnya terjadi.”
Sambaran pemuda itu membuat aku
sedikit kaget. Bagaimana tidak, tanpa basa basi ia langsung menyerangku ke
topik. Begini, tadi, aku masih berjabat tangan dengannya. Bersama dengan itu ia
langsung melontarkan kata-katanya dengan begitu cepatnya.
“Maafkan saya Tuan Kuncoro, kawan
saya ini memang seperti itu. Sifatnya yang blak-blakan malah akan mempercepat
penyelesaian kasus.” Madam Deborah sepertinya bisa membaca mataku. Dengan
lembut ia kemudian duduk di sofa sambil menyilanggkan kakinya yang agak
keriput. “Baik, sekarang bisa kita mulai? Mari jalan.” senyum manis tersungging
di wajahnya yang masih lumayan cantik.
“Begini, pada tanggal 14 Pamanku
tewas di lab kesayangannya. Badannya terbakar habis. Kami (Bi Idah, istriku, beberapa
polisi, dan aku) sudah tidak bisa mengenalinya jasadnya. Ya, kurasa itu sudah
cukup jelas, Prof. Hary Jaiman yang membunuhnya. Mereka memang sering sekali
cekcok.”
“Seperti?” tanya si Dennis.
“Dari dulu mereka bersaing
merebut perhatian sponsor untuk mendanani penelitian mereka. Pamanku rasanya
telah mencuri ide Prof. Hary. Ia kemudian menggunakannya untuk menarik sponsor.
Kurasa Prof. Hary sakit hati. Oya ini sms dari Prof. Hary kepada Paman—beberapa
jam sebelum pembunuhan itu terjadi.”
Aku menunjukkan ponsel ke depan kedua tamuku. Isinya seperti ini.
MARI KITA
SELESAIKAN MASALAH INI HEN, DIAM KAU DI RUMAH AKU AKAN DATANG. BENAR-BENAR
DATANG!!
“Ya, bukti ini cukup kuat. Polisi
bisa menarik kesimpulan dengan mudah. Lanjutkan cerita anda Tuan.” sambung
Madam Deborah.
“Ya—saya akan melanjutkan ke
kasus hantu ini. Aku tidak percaya hantu—aku menganggap jika orang yang sudah
mati tidak ada urusannya lagi dengan kita yang masih hidup. Ini juga harusnya
berlaku bagi Paman. Begini, tanggal 15 aku dan istriku dipanggil oleh pengacara
paman untuk menerima warisan dari Paman. Ya, kami memang satu-satunya sanak
keluarga paman yang tersisa.” Aku diam sejenak dan memperhatikan mata Dennis,
aku tahu apa yang akan ia tanya. “Ya, dia tidak menikah. Dia mengucilkan diri
dari keluarga besar. Ya, kami tidak ada pilihan. Kami harus menerima
warisannya, meskipun namaku tidak ditulis di surat wasiatnya. Oya—sampai di
mana tadi?”
“Pemanggilan anda dan isteri.”
“Oya, setelah pengacara pergi.
Kami kemudian mengecek isi brankas paman yang katanya penuh dengan kilauan perhiasan dan emas. Ah, ya, benar
setelah ku buka, mulutku dan mulut istriku tidak bisa berhenti menganga. Banyak
sekali!!.” aku berhenti untuk menarik napas. “Kami dengan segera menutup
brankas tersebut, ya kami tidak kuat melihat benda berkilau-kilau itu dalam
waktu lama—”
“Lebih singkat Tuan, maksud saya,
lebih ke topik.” lagi-lagi anak ini menyemburku dengan kata-katanya yang tajam
itu. Aku kembali menarik napas panjang.
“Ah, biarkan aku menyelesaikan
ceritanya. Aku tahu apa yang harus kuceritakan—keesokan harinya di malamnya
maksudku, isteriku membujukku untuk memindahkan beberapa batangan emas itu ke
tempat lain. Ya, anda sekalian bisa menebak. Beberapa perhiasan dan batangan
emas telah raib. Aku terdiam sejenak. Aku meyakinkan diriku telah mengunci
brankas dengan benar. Satu lagi yang ingin kutambahkan. Yang tahu cara membuka
brankas ini hanya keluarga besar Hadi saja. Nah, kita perlu ingat jika keluarga
Hadi yang tersisa hanya aku dan Paman, sedangkan kita juga tahu bahwa Paman
telah meninggal. Jadi kemungkinannya, jika bukan aku yang membuka brankas, ya
pasti Pamanlah orangnya.”
“Apakah anda sudah yakin mengunci
brankas dengan benar?” tanya Madam Deborah.
“Yakin seyakin, yakinnya.
Isteriku jadi saksinya.”
“Bisa kulanjutkan?” dua anggukan
serius mengikuti perkataanku. “Ya, kurasa nada bisa menebaknya kembali. Di
malam berikutnya kami kembali membuka brankasnya. Ya, isinya kembali berkurang.
Ini telah berlangsung 2 kali. Aku tidak tahu, apakah malam ini peristiwa ini
akan terjadi lagi. Hantu ini, ia meneror kami rupanya. Tidak hanya dengan
pencurian, tapi diikuti dengan asap tebal tiap malam hari, tiap terjadi pencurian.
Sepertinya ia ingin menekankan efek teror
hantu pada kami semua.”
“Hmm, sungguh menarik. Aku tidak
yakin ada hantu pengutil brankas yang setelah mencuri akan beterbangan dengan
meninggalkan asap-asap. Halah, aku seperti ingin tertawa.” wajah Dennis tampak
bingung. Bukan seperti orang ingin tertawa seperti yang ia tuturkan.
“Jangan tertawa dulu sayangku,
kita cerna cerita ini dulu.” tangan keriput Madam Deborah memukul manja
asistennya yang kemayu itu. “Oya Tuan, saya ingin bertanya? Apakah anda yakin benar-benar
terjadi pencurian? Begini, tadi anda bercerita jika anda dan isteri kaget saat
melihat benda-benda berkilau itu,
pendapat saya anda tidak akan tahu pasti berapa jumlah perhiasan yang ada dalam
brankas itu.”
“Ya, aku sangat yakin. Pada hari
pertama membuka brankas, aku mencocokkan isinya dengan daftar yang telah
diberikan oleh pengacara Paman. Hmm, hasilnya cocok kok.”
“Bagaimana dengan asap itu?”
“Pada pencurian pertama kami
tidak mengetahui ada asap. Yang memberitahu kami bahwa ada asap tebal adalah Bi
Idah. Tapi yang kedua, kami bertiga melihat asap itu dengan mata kepala kami.
Entah apa yang dipikirkan, Bi Idah mengarahkan kami untuk mengecek isi brankas
lagi. Kami kemudian menemukan bahwa telah terjadi pencurian kedua. Kemudian, Bi
Idah mengaitkan hal ini dengan hantu Paman yang mengambil kembali hartanya.
Tentu saja, isteriku langsung histeris.”
“Baik, sudah cukup. Antarkan kami
melihat brankas dan jalur yang dilalui si Hantu. Satu lagi, aku ingin melihat
laboratorium mendiang Paman anda.” Bersamaan setelah itu, Madam Deborah terbangun
dari posisinya semula dan kembali melemparkan senyum manis kepadaku.
Bergegas aku mengantarkan mereka
ke brankas yang terletak di ruang tengah, di belakang ruang tamu tadi. Si
Dennis mengecek brankas dam memastikan sangat sulit kemungkinan terjadinya
perusakan dan teknik-teknik penghancuran lainnya. Setelah selesai, kami
menyusuri jalur asap aneh tersebut. Dari ruang tengah mengambil jalur kiri ke
koridor lantai satu yang cukup panjang. Jalan ini berujung tepat di lab Paman,
sekaligus tempat asap itu berujung dan menghilang.
Setelah sampai di lab Paman, aku
agak bergidik melihat lab pamanku. Seperti di adegan film horor yang
menampilkan adegan pembunuhan di laboratorium, lengkap dengan peralatan kimia
dan cermin besar di ujung ruangan yang bisa memantulkan seluruh bagian ruangan
lab itu. Yang lebih mengerikan, ketika kita semakin masuk ke ruangan lab,
langkah kami menjadi semakin bersuara. Ya, kami seperti menginjak lapisan tipis
yang menutupi ruangan berongga. Hmm, yang pasti aku benci itu.
“Huh, rumah warisan ini
menggunakan desain rumah Belanda ya? Aku sangat tertarik jika kita mungkin bisa
menemukan ruang-ruang rahasia. Heh
sudahlah, aku ingin memastikan, kurasa asap itu berawal dari ruang tengah, ke
koridor dan terakhir di ruangan lab ini.”
“Ya, tepat Madam asapnya berhenti
di sini. Oya, mengenai pendapat anda tentang ruang rahasia, saya rasa mungkin
memang benar ada ruangan rahasia di sini. Peninggalan Belanda kadang-kadang
membuat kita terkaget. Namun, saya belum sempat mengeceknya.” jawabku dengan
wajah penasaran.
Madam Deborah hanya mengangguk
tanda sepakat dan kemudian kembali lagi ke topik utama pembicaraan.
“Dan anda bertiga mengamatin
asapnya dari lantai dua. Beberapa saat kemudian kalian bertiga turun dan
menyusuri jalur asap?”
“Ya, dituntun Bi Idah kami
menelusuri jalurnya.”
“Huh, Pembantu anda ini—berani
sekali untuk orang yang takut hantu. Oya, tadi di dekat pintu lab, saya melihat
2 tabung besar berisi gas nitrogen cair yang kelihatannya masih baru?”
“Ya itu masih baru Madam. Tepat datang
tanggal 15 Oktober. Mungkin di pagi hari.” sambung Dennis. Kami sampai lupa
jika ada pria kemayu ini di sini.
“Ah, benarkah? Kenapa mereka
tidak tahu jika si pemesan sudah mati?”
“Maaf Madam, aku tidak mengetahui
hal itu. Itu sudah tugas Bi Idah.” jawabku
Beberapa saat kemudian Bi Idah
setengah berlari menghampiri kami. Aku heran kenapa minuman yang dibawanya
tidak tumpah.
“Maafkan saya Tuan, Nyonya. Ini
minumannya.” dengan sigap ia menaruh minuman di salah satu meja kayu. Namun,
kembali dengan sigapnya ia menarik tanganku saat ingin menyalakan saklar lampu.
”Hati-hati Tuan, biar saya yang menyalakannya. Salah satu saklar di sini sering
konslet. Nanti anda kesetrum.” sebelum
menyalakan lampu, ia agak terkaget melihat ke bawah. Mungkin ada kecoa, dengan
agak termangu ia mengetok-ngetokkan hak sepatunya berharap bisa menjangkau si
kecoa malang. “Nah, cukup satu lampu saja yang dinyalakan. Saya rasa sudah
cukup terang”
“Oh, terima kasih Bi.” yah,
syukurlah Bi Idah memberitahukan itu padaku. Tapi tunggu dulu, Madam Deborah
sepertinya tidak percaya jika Bi Idah melihat kecoa. Dia terus-terusan
mengamati gerak-gerik pembantu tua yang setia ini. Tapi, setelah ia melihat aku
memperhatikannya, ia segera memalingkan pandangannya.
“Ooh, jadi di sana Paman anda meregang
nyawa?” lagi-lagi anak muda ini mengejutkan aku. Kami tidak sadar jika ia sudah
berada di sudut ruangan, tempat paman meninggal. Di sana masih cukup jelas
terlihat kulit lantai keramik yang hangus dan terkelupas beberapa bagian.
“Oya, hampir aku lupa. Ada yang
aneh dengan jas Paman. Aku heran, seharusnya, jasnya hangus terbakar.” tanyaku
ke kedua orang unik ini.
“Maksud anda tuan?” tanya Dennis.
“Ya, sudah ku katakan sebelumnya,
jika tubuh paman seluruhnya hangus terbakar. Sampai ke dalam pakaiannya, yah,
maksudku kulitnya. Logikanya, jas itu harusnya hangus terbakar juga. Tapi, yang
polisi temukan, jasnya hanya terbakar sebagian, tepatnya di bagian depan.”
“O, benarkah? Ini sungguh
menarik.Oya, Bi Idah. Apakah postur Tuan Hendarto Hadi sama dengan Prof. Hary
Jaiman? Maksudku sulit dibedakan?” tanya Madam Deborah ke Bi Idah.
“Ya Nyonya, mereka hampir sama.
Mereka akan jadi sahabat yang cocok jika seandainya tak ada pertengkaran hebat
ini. Dulu mereka teman baik.” sahut Bi Idah dengan muka agak perihatin.
“Benarkah? Ya sudahlah nasi sudah
menjadi bubur. Kita tidak bisa berbuat apa-apa—“
Belum selesai Madam Deborah
berkata, tiba-tiba ada suara berdebam yang cukup keras mengacaukan pembicaraan
kami. Ku kira asalnya dari ujung ruangan. Tepatnya di dekat cermin. Namun,
setelah kami ke sana, tidak ada apa-apa. Tidak ada benda-benda berjatuhan. Yang
anehnya, Madam Deborah dan Dennis justru antusias saat tidak menemukan apa-apa
di sana. Malahan Dennis sampai tiarap menempelkan kupingnya ke lantai keramik
dingin sambil mengetok-ngetokkan tangannya ke lantai. Tapi, Madam Deborah hanya
terbengong di depan cermin, memperhatikan bayangannya sendiri dan
menusuk-nusukkan jari tangannya ke cermin. Aneh, ia seperti berharap menusuk
bayangannya sendiri. Aku juga sepertinya melihat sunggingan senyum puas di
bibir tipisnya.
Hii, aku agak bergidik melihat
kelakukan manusia-manusia itu. Mereka tidak terlihat seperti manusia lagi saat
melakukan hal itu. Setelah beberapa menit aku mematung melihat aksi mereka yang
aneh. Akhirnya Madam Deborah angkat bicara.
“Baik, aku rasa cukup. Silakan
telepon beberapa polisi ke sini Tuan. Aku rasa kami telah menemukan
pemecahannya. Oya, selain Tuan Kuncoro, tidak ada lagi yang boleh keluar dari
lab ini.” papar Madam Deborah dengan suara lantang.
****
Setelah kami semua berkumpul di lab
Paman, lengkap dengan tiga orang polisi. Ya, tentu saja dengan isteriku juga.
Aku berhasil membujuknya kembali ke rumah horor ini untuk mengetahui apa yang
sebenarnya terjadi. Dari kemarin ia mengungsi ke rumah sepupunya di dekat sini.
Kami semua membisu di kursimelingkar kami masing-masing. Meja bundar besar di
lab kami gunakan untuk meletakkan tangan kami.
Akhirnya, Madam Deborah mulai memainkan
skenario pemungkasnya. Kilatan matanya menandakan bahwa ia telah mencapai
kemenangan. Beberapa detik kemudian akhirnya ia pun bergeming.
“Ehem, Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya.
Di sinilah kita sekarang. Saya akan menyampaikan fakta-fakta menarik dari kasus
ini. Baiklah yang pertama soal pencuri itu. Begini, pencuri itu sungguh
kreatif. Dia meninggalakan asap tebal setelah mencuri guna menakut-nakuti si
penunggu rumah. Itu!” Madam Deborah menunjuk tabung Nitrogen cair yang berada
dekat pintu. Setelah memberikan kode ke Dennis, Dennis langsung beranjak ke
arah tabung-tabung itu.
Dengan sigap dan sungguh
berpengalaman, Dennis membuka tabung itu. Oya, tidak lupa setelah menggunakan
sarung tangan yang ada di dekatnya.
“Begini hadirin sekalian!” Dennis
mengarahkan mulut tabung yang klepnya telah terbuka ke arah lantai, cairan
Nitrogen itu tertumpah.
“Wow!” pekik kami saat melihat asap
tebal yang datang dari arah Dennis. Mulut kami hampir menganga, namun, Madam
Deborah hanya tersenyum.
“Begini Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya
sekalian. Ini merupakan peristiwa kimawi. Ya, namanya penguapan. Gas Nitrogen
cair akan segera kembali menyatu dengan udara sekeliling jika diperlakukan
seperti itu.” ia kembali menunjuk Dennis yang sudah mulai menutup
pertunjukannya. “Ya, kembali ke wujud gas tepatnya asapnya.”
“Baik, Madam. Bagaimana dengan
pencurinya? Kita kan tahu bahwa yang bisa membuka brankas itu hanya suamiku dan
paman Darto?” tanya istriku dengan nada yang kurang puas.
“Tenang sayang. Itu merupakan
kejutannya.” Madam tertawa renyah menanggapi pertanyaan istriku. “Ya, memang Paman
kalian yang mencuri perhiasannya. Ya, orang itu, bukan hantu itu. Paman kalian
masih hidup.”
Pernyataan Madam Deborah kembali
membuat kami semua terkesiap. Aku sendiri merasa sangat kaget dan bingung.
Bagaimana dengan mayat itu, bagaimana dengan pembunuhannya. Aku terus
bertanya-tanya dalam hati.
“Ya, Paman anda bukan dibunuh.
Tetapi, dia membunuh. Mayat itu adalah mayat Profesor Hary Jaiman. Paman
andalah yang melemparkan cairan kimia itu ke tubuhnya.”
“Bagaimana mungkin, Profesor Hary
Jaiman sekarang menjadi buronan, Nyonya.” sahut seorang Polisi Tua yang duduk
paling ujung.
“Anda keliru dalam pemeriksaan pertama kali,
lihat jas lab itu, itu tidak terbakar seluruhnya. Seperti kata Tuan Kuncoro
kebakaran itu menghanguskan seluruh tubuhnya—depan belakang. Ku rasa itu adalah
jas Tuan Hendarto Hadi. Anda bisa kembali memeriksanya, lihat ujung kanan
bawahnya. Ada tulisan namnya yang dibordir dengan benang hitam. Tapi, aku tidak
mengapa jika Prof. Hendarto sampai bisa meninggalkan jejak.”
“Ya, benar. Dia benar, Nyonya itu
benar.” sahut seorang Polisi muda kepada seniornya.
“Aduh, anda sangat mengerikan,
Madam. Saya hanya ingin bertanya satu lagi. Di mana Paman saya sekarang?” tanya
ku dengan ngotot.
“Sabar-sabar. Lihatlah trik keren
ini. Saya akan memanggil Paman anda dulu.” Aku menatap Madam Deborah dengan
penasaran. “ Baiklah Profesor Hendarto Hadi. Ini sudah selesai. Saya thu anda
hanya membela diri dalam perkara ini. Dan saya juga tahu bahwa anda tidak rela
harta anda di ambil oleh Keponakan anda satu-satunya. Jadi, naiklah dan merapat
ketempat anda mengamati kami sedari tadi.” Madam Deborah berteriak agak keras
saat kalimat terakhir. Matanya hanya tertuju ke ujung lab yang ditempeli cermin
besar. “Dennis lakukanlah!” perintah Madam kepada Dennis.
Dennis kemudian berjalan ke arah
saklar listrik. Kurasa ia hendak menyalakan kesemua lampu. Bi Idah kembali
memeperingatkan dengan agak sedikit berteriak. Aku merasakan kecemasan dalam
teriakannya itu. Namun, sudah terlambat, lampu sudah menyala. Betapa kagetnya
kami semua saat melihat ke cermin.
“Paman!” teriakku dan isteri ku.
Para Polisi menggeser kursinya dengan kasar dan terbengong melihat penampakan
itu dan Bi Idah hanya tertunduk lesu.
“Ya, anda benar nyonya. Semua
yang anda katakan adalah kenyataan. Saya yang membunuh Hary. Tapi saya hanya
membela diri, seperti yang dikatakan oleh Nyonya barusan. Mengenai penggondolan
brankas itu—saya memang tidak setuju jika harta itu jatuh ke keponakan saya.
Saya harus membuatnnya takut untuk menyentuh barang-barang saya, dia harus
pergi dari rumah ini. Saya tidak punya saudara lagi di dunia. Sudah cukup!”
kata Pamanku dengan nada-nada datar.
“Tapi, Paman. Aku dan Dila tidak
bermaksud mengambil harta paman. Kami bermaksud menyumbangkan emas dan
perhiasan paman ke panti asuhan kami di desa. Dan rumah ini, akan kami jadikan
rumah singgah bagi orang dari jauh jika ingin berobat ke kota. Itu saja.”
Kata-kata itu kulontarkan dengan tatapan jujur. Ya, memang itu tujuan utama ku
dan isteri.
“Baiklah cukup tuan-tuan. Saatnya
Profesor mempertanggung jawabkan perbuatannya. Ayo anak-anak bantu aku.” Polisi
tua itu memerintahkan anak buahnya meringkus paman. Paman menerima hal itu
tanpa melawan. Beberapa menit kemudian mereka sudah pergi dari rumah ini.
Menyisakan aku, Bi Idah, isteriku dan tentunya kedua pembaca peristiwa yang aku
sewa.
“Mengapa anda bisa mengetahui
jika paman ada di balik cermin itu. Aku merasa jika itu hanya cermin biasa.
Tadi kita tidak melihat Paman di sana?” tanyaku dengan rasa penasaran yang
tebal.
“Biarkanlah Dennis yang
menjelaskan ini. Aku rasa dia suka yang seperti ini.” jawab Madam Deborah.
“Terima kasih Madam. Begini Tuan
Kuncoro. Madam sepertinya sudah curiga dengan lampu remang-remang dan gelagat
pembantu anda, Bi Idah. Ingat, dia melarang kita menyalakan saklar lampu lebih
dari satu. Selain itu ia mengetokkan kakiknya keras-keras ke lantai padahal
kita tidak melihat ada kecoa—ya, seperti yang dia katakan.”
“Lalu?” tanyaku lagi.
“Aduh Tuan anda belum sadar juga?
Itu adalah cermin dua arah. Begini cara kerjanya. Jika kita melihat cermin itu
di ruang gelap cermin itu akan menjadi cermin biasa yang hanya memantulkan
bayangan si pengamat. Nah, itu loh alasan lampunya. Jika kita menyalakan semua
lampu, ruangan di balik cermin—tempat persembunyian paman anda—akan kalah
terang. Dan kita semua di ruang terang akan melihat menembus ke cermin itu. Ya,
dia akan menjadi kaca tembus pandang, bukan cermin. Dan cara kami memastikannya
adalah mendekatkan jari ke cermin. Jika jari dan bayangan jari kita yang
terbentuk menempel satu sama lain tanpa dipisahkan jarak setebal cermin, maka
kita bisa memastikannya sebagai cermin dua arah. Jika anda belum terlalu paham,
lihatlah di buku-buku atau internet.” tutur Dennis panjang lebar.
“Aku mengerti sekarang. Jadi itu
alasan Madam menusuk-nusukkan jarinya ke cermin. Dan apa gunanya ketukan kaki
Bi Idah itu, tadi anda sempat menyinggung hal ini melalui bisikan, Madam.”
tanya ku antusias.
“Begini.” kali ini Madam sendiri
yang menjelaskan. “Pembantu ini adalah patner Paman anda. Dialah yang
menggiring kita semua ke cerita hantu, ingat? Saya bisa melihatnya dari awal,
ia adalah tipe pembantu yang setia pada majikan lamanya, meskipun sampai majikan
itu mati. Saya suka itu, itulah yang menyebabkan saya tidak melaporkannya tadi
pada polisi. Saya ingin dia ikut anda mengelola panti asuhan anda. Kurasa dia
patut diandalkan.” mendengar pujian itu, Bi Idah tertunduk lesu. Mungkin ia
agak malu. “Mengenai ketukan kaki itu—itu adalah kode untuk memanggil Paman
anda di ruang bawah tanah, di bawah lab. Dia ingin tuannya memperhatikan kita,
ya tak lupa menggagalkan tangan anda yang ingin menyalakan saklar supaya
triknya tidak terbongkar.”
“Ya, sekarang sudah jelas.
Misteri ini benar-benar sudah terbongkar. Saya akan segera meninggalkan rumah
ini secepatnya. Biarlah pengadilan yang mengurus rumah ini. Terkhir kalinya,
saya semakin heran dengan anda. Anggapan saya berubah sejak anda membongkar
kasus ini. Awalnya saya menganggap anda tidak becus, wajarlah anda tahu
alasannya. Tapi rekomendasi isteri saya ternyata tidak salah. Anda hebat.”
pujianku tertuju pada wanita tua yang berdiri di sampingku.
“Yah, Tuan. Semua orang akan
beranggapan seperti itu. Terutama yang muda-muda. Semua orang muda berpendapat jika orang tua itu tolol. Tapi, orang tua
tahu jika orang muda tolol.” putus Madam Deborah.
“Hii, lama-lama anda semakin mirip
seperti Miss Marple-nya Agatha Christie[1]”
desis isteriku.
[1]
Tokoh fiksi ciptaan Agatha Christie. Perawan Tua Desa yang bisa memecahkan
kasus-kasus kriminal dengan cemerlang. Miss Marple muncul dalam beberapa buku
laris Agatha Christie.