Rabu, 22 Mei 2013

ARTIKEL BERKAITAN DENGAN WEDA



Melupakan Ajaran Weda Memperpendek Umur
HAKIKAT isi Weda adalah kebenaran yang kekal abadi atau Sanatana Dharma. Kebenaran Weda adalah sesuatu yang menuntun umat manusia semakin dekat dengan kehendak Tuhan. Bentuk tuntutan menuju jalan Tuhan itu bermacam-macam. Tuhan menciptakan banyak jalan karena keberadaan umat manusia itu penuh dengan keanekaragaman. Manusia sangat beraneka ragam, baik kadar intelektualnya, kadar emosinya maupun kadar spiritualnya. Karena itu tidak mungkin manusia diajak menempuh hanya satu jalan. Lebih-lebih menyangkut masyarakat keyakinan sebagai aspek hidup manusia yang terdalam. Keberanekaragaman umat manusia ini disebabkan oleh keberadaan ruang dan waktu yang terus berputar. Manusia lahir dan hidup diruang dan waktu yang berbeda-beda. Hal ini menyebabkan manusia hidup di lingkungan yang berbeda-beda. Berbeda lingkungan alamnya, lingkungan sosialnya maupun lingkungan rokaninya. Hal itulah menyebabkan terciptanya jalan yang sangat beraneka ragam menuju jalan Tuhan.
Banyaknya jalan menuju jalan Tuhan itu sudah diajarkan dalam kitab suci Weda. Tidakkah tepat kalau ada pihak yang mengklaim bahwa bentuk tuntunan ke jalan Tuhan yang diyakininyalah yang paling benar dan yang lainnya salah. Demikian jugalah kitab suci Weda yang memuat kebenaran yang kekal dan abadi diwujudkan dalam berbagai jalan dan tradisi. Umat boleh bebas memilih jalan yang mana pun yang dipilih asalkan itu jalan menuju jalan Tuhan. Mencela orang lain yang memilih jalan berbeda dengan diri itu sama dengan mencela jalan Weda. Jangankan mencela Weda melupakan Weda saja sudah dinyatakan sebagai jalan yang sesat.
Dalam kitab Manawa Dharmasastra V.4 dinyatakan bahwa Sang Hyang Mrtyu (Dewa Kematian) berhak memperpendek umur para Brahmana kalau melupakan Weda (anabhyaasena wedanam). Demikian juga kalau menyeleweng dari tradisi Weda (aacaarasya), teledor melakukan tugas-tugas, memakan makanan yang terlarang. Semua perbuatan itu akan dapat memperpendek umur para Brahmana.
Bhagawad Gita IV.11 sudah menetapkan petunjuk bahwa jalan yang manapun yang ditempuh oleh umat manusia sepanjang jalan itu jalan menuju Tuhan, Tuhan pun akan menerima lewat jalan itu juga. Tuhan berada di mana-mana termasuk di semua jalan Weda yang ditempuh oleh umat manusia menuju-Nya.
Orang yang mencela jalan yang berbeda dengan jalan yang ditempuhnya disebabkan oleh kesombongan dan membangga - banggakan jalan yang ditempuhnya dengan menganggap remeh jalan yang dipilih oleh orang lain. Sombong dan membanggakan diri disebutkan sebagai sifat dari Asura atau raksasa dalam Bhagawad Gita XVI.4. Karena itu marilah kita hormati perbedaan cara menempuh jalan menuju jalan Tuhan. Lebih-lebih pada zaman yang disebut oleh para ilmuwan sebagai zaman post modern. Ciri utama dari zaman post modern ini adalah keadaan yang serba pluralistis di berbagai kehidupan. Kita akan stres berat kalau tidak bersikap loyal dan toleran pada perbedaan cara yang ditempuh oleh sesama manusia dalam melakukan kehidupan ini. Apalagi dalam memilih cara beragama yang memang sudah dijamin oleh norma hukum dan norma Agama itu sendiri. Karena banyak pihak yang menginginkan agar cara yang dipilihnyalah juga dipilih oleh semua orang. Sedangkan pada kenyataannya hal itu tidak mungkin terjadi. Apalagi pada era post modern ini. Hal tersebutlah yang akan menimbulkan stress yang dapat memerpendek umur.
Marilah kita bahagia hidup dalam keaneka ragaman budaya. Yang penting harus dijaga keanekaragaman tersebut membawa pada kemajuan hidup lahir dan batin berdasarkan kebenaran kitab suci sabda Tuhan.
Sikap inilah yang mungkin dianut oleh leluhur umat Hindu dimasa lampau di Jawa dan Bali di masa lampau. Dari sikap yang bijaksana seperti itulah melahirkan budaya Hindu di Jawa dan Bali menjadi budaya Hindu yang adi luhung seperti yang kita warisi dewasa ini. Sikap loyal dan toleran itu menyebabkan Ramayana dan Mahabharata yang asalnya dari India diterima di Jawa. Demikian juga saat Bali diperintah oleh Raja Udayana bersama dengan permaisurinya, susastra Jawa Kuna masuk ke Bali. Seperti karya sastra Ramayana dan Mahabharata yang sudah berbahasa Jawa Kuna dan karya sastra Jawa kuno lainnya. Demikian juga pengaruh dari Cina, Mesir, Eropa, dan lain-lain memperkuat dinamika budaya Hindu di Bali. Yang penting tattwa atau kebenaran Hindu menurut Weda teraplikasikan dalam kehidupan masyarakat luas.
Namun proses keterbukaan dalam menjaga dinamika budaya Hindu di Bali sepertinya mendapat tantangan dari pihak-pihak yang tidak ingin melanjutkannya. Syukurlah sikap demikian itu banyak mendapat tantangan dari pihak-pihak yang menginginkan dinamika budaya Hindu tetap ajek menjadi wadah pengamalan tattwa agama Hindu dalam kehidupan sesuai dengan kebutuhan zaman.
Sumber: biets.tripod.com/artikel_l2.htm


Ashram, Tradisi Weda di Zaman Modern
Gagasan tentang ashram atau pasraman sebagai tempat penggemblengan mental spiritual akhir-akhir ini mencuat kembali. Memang sangat menarik untuk dikaji bersama karena menyangkut sumber daya manusia Hindu yang kita harapkan.
Dalam Hindu (tradisi Weda) istilah ashram tidak asing lagi, seperti halnya dengan warnashrama dharma, yang meliputi catur warna dan catur ashrama.
Sekarang ramai diwacanakan untuk pembentukan ashram atau pasraman kilat. Bahkan pura atau balai banjar akan dijadikan pasraman kilat tersebut, hendaknya mengacu kepada tradisi Weda, sebab esensi dari ashram adalah untuk menimba pengetahuan rohani. Sedangkan sekolah-sekolah formal untuk pengetahuan modern.
Selain adanya transformasi nilai-nilai ajaran Weda, di ashram juga diterapkan disiplin yang ketat sesuai dengan yang ditetapkan dalam kitab suci Weda. Seperti prinsip-prinsip tegaknya dharma yaitu tidak melakukan kekerasan dalam arti tidak melakukan pembunuhan hewan, tidak melakukan kekerasan baik kekerasan pikiran, perkataan dan perbuatan. Prinsip berikutnya adalah melakukan tapasia (pengendalian diri) dengan tidak meminum minuman beralkohol, obat terlarang, kopi, rokok dan sejenisnya, menjaga kejujuran dengan tidak melakukan judi dan menjaga kesucian badan dengan tidak melakukan hubungan seks.
Selain sebagai pusat menggembleng disiplin tersebut di ashram juga secara rutin dilakukan persembahyangan/melakukan pelayanan bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam wujud Arca Vigraha, melantunkan doa/nyanyian pujian kepada Nama Suci Tuhan, berjapa (mengucapkan nama suci Tuhan dengan memakai japa), dan pelajaran atau membaca sloka-sloka Weda terutama Bhagavadgita, Bhagavatam Purana atau sastra Weda lainnya. Kebetulan saya pernah mengunjungi beberapa ashram yang ada di Bali, memang terasa nuansa yang sangat rohani, benar-benar merupakan tempat suci yang sesungguhnya, mungkin seperti itulah tradisi Weda ribuan tahun yang lalu. Di ashram tinggal beberapa orang brahmacari untuk melakukan pelayanan bhakti. Suasananya pun menjadi khusyuk ketika kidung-kidung suci/bhajan dikumandangkan oleh bhrahmacari.
Kadangkala ashram kedatangan seorang guru kerohanian atau Sanyasi untuk memberikan pelajaran Weda dan ajaran-ajaran Ketuhanan, sesekali diadakan upacara diksa sebagai wujud bahwa seseorang telah berguru untuk belajar Weda kepada guru kerohanian tersebut.
Latar belakang brahmacari beraneka ragam dari segi etnis dan sosial, ada beberapa brahmacari yang sebelumnya penjudi berat, pemabuk berat dan sejenisnya, namun kini setelah tinggal di ashram telah sepenuhnya sadar dan meninggalkan kehidupan berdosa tersebut serta menyerahkan diri sepenuhnya di ashram sebagai pelayan Tuhan. Dari sisi pembinaan generasi muda sangat positif, makin banyak ada ashram makin banyak pula generasi muda dapat diselamatkan.
Saat ini di Bali memang telah banyak berdiri ashram-ashram, baik milik pribadi ataupun kelompok spiritual tertentu. Namun pada prinsipnya metode dan isi dalam mentransformasi nilai-nilai ajaran Weda tidak jauh berbeda. Bila ada upaya untuk membentuk ashram, maka setidaknya pola-pola di atas dapat dipakai sebagai rujukan, sehingga opini publik tentang ashram adalah positif. Tetapi bila sekadar mewujudkan ashram, minta bantuan dari pemerintah atau donatur, namun kegiatannya masih seperti yang kita lihat, kebiasaan minum alkohol, mabuk, berjudi/tajen dan sejenisnya, tidak akan banyak manfaatnya, malah akan melebarkan permasalahan yang dihadapi saat ini.
Menurut hemat saya, sebaiknya ashram-ashram yang sudah ada didata kembali kemudian dikembangkan dan direkomendasi untuk membentuk pasraman kita untuk mengisi masa liburan sekolah.
Dr. Made Wardhana, Sp.KK.
Candra Asri D.19 Denpasar

Menegakkan Dewasa Ayu pada Ritual di Zaman Modern

            Dalam Bhagavata Purana dikisahkan saat Parikesit lahir, para rsi dan muni berkumpul untuk menghitung formasi bintang dan benda-benda angkasa guna mengetahui nasib si bayi yang baru lahir itu. Alhasil, konon dengan perhitungan ilmu Jyotisha, sejak kelahirannya Parikesit sudah diramalkan bakalan meninggal akibat dipatuk ular.
            Astrologi dan astronomi dalam khasanah Weda dikenal dengan nama Jyotisha. Jyotisha secara harfiah berarti "Lord of Light" atau "studi tentang cahaya" mencakup terang dari langit maupun dalam "melihat" seseorang. Ini adalah model dari realitas yang menafsirkan kondisi diamati kosmos pada saat acara - seperti kelahiran - dalam rangka untuk memberikan gambaran ke dalam sifat dan peristiwa pada periode selanjutnya.
            Jyotisha berdiri di garis depan sistem ramalan India dan dikenal sebagai "mata dari Veda". Veda (pengetahuan) adalah kognisi besar dari Resi kuno (orang bijak) yang merupakan dasar dari budaya India dan filsafat yang menguraikan inti pengetahuan tentang Brahman - roh murni abadi yang mendasari semua makhluk, semua objek dan pengalaman. Jyotisha sendiri adalah Vedanga - salah satu dari enam anggota badan dari Veda yang mendukung dan mempertahankan pengetahuan berharga dan memungkinkan untuk ditekuni terus dari generasi ke generasi.
            Jyotisha adalah unik dalam kemampuannya secara umum dan berlaku untuk semua waktu, tempat dan individu. Karena alasan ini bahwa Jyotisha karena itu relevan dalam membimbing setiap orang menuju pemahaman yang lebih luas sehubungan dengan tempat kita di alam semesta, sehingga dapat mengetahui siapa diri kita di bentangan semesta yang maha luas ini. Juga pengetahuan mengenai dari mana kita berasal dan ke mana kita akan pergi. Jyotisha adalah alat yang ampuh dalam menerangi apa yang sebelumnya mungkin telah menjadi misteri dari rantai sebab dan akibat dan dengan demikian memungkinkan seorang individu untuk memahami dan menemukan keselarasan dengan hidupnya di masa kini.
            Seperti semua mata pelajaran klasik India, Jyotisha benar-benar sebuah studi yang indah yang mencakup disiplin ilmu lain dan berkembang pada pengikutnya perpaduan unik dari logika, intuisi, pragmatisme, analisis dan sintesis. Memang, Jyotisha adalah "sadhana", sebuah jalan spiritual yang dapat mengubah kehidupan seseorang secara permanen.

Ala Ayuning Dewasa
            Menurut Jyotisha, setiap waktu dipengarhui oleh konfigurasi benda-benda angkasa dan siapa yang lahir pada masa tertentu, maka bakat, watak dan nasibnya dapat dibaca berdasarkan pengaruh kosmos itu. Adalah Karma Phala yang memungkinkan seseorang terlahir pada waktu tertentu sesuai bobot karma yang telah dibuatnya pada masa sebelumnya. Demikian berpengaruhnya konfigurasi planet-planet angkasa, bagi kehidupan di bumi, maka bila hendak memulai suatu aktifitas baru diusahakan memilih waktu yang tepat. Seseorang berpikir untuk memulai usaha-usaha di bidang kebaikan, entah pembangunan, ritual, perjalanan dan sebagainya, maka diusahakan memperoleh dukungan dari energi makrokosmos yang terbaca lewat ilmu Jyotisha. Dan di Bali ilmu ini lumrah dikenal sebagai uger-uger padewasan atau uger-uger ala ayuning dewasa.
            Ala ayuning dewasa di Bali menguraikan tentang perhitungan hari – hari yang sangat baik untuk melaksanakan upacara dan dan kegiatan lainnya, serta ada juga hari yang harus dihindari dalam pelaksanaan suatu kegiatan. Ida Pandita Mpu Nabe Reka Dharmika Sandhiyasa dari Geriya Kayumas Kaja mengatakan, dalam penentuan waktu ritual ada banyak pilihan, karena ketentuannya adalah, wewaran alah dening wuku, wuku alah dening panglong, panglong alah dening sasih, sasih alah dening dauh dan dauh alah dening ning.
            Menurut Ida Pandita Mpu Nabe, misalnya dewasa ayu berdasarkan sasih untuk upacara pawiwahan (Pernikahan), maka ketentuannya adalah Sasih Kaso, Karo (Buruk). Sasih Kasa buruk untuk melakukan pernikahan karena “kasengsaran” artinya dalam membangun rumah tangga akan menemui kesengsaraan, anak sakit – sakitan. Kemudian Sasih Karo juga buruk untuk melakukan pernikahan karena “Punggung Tiwas, Nemu Sungsut” artinya dalam membangun rumah tangga akan menemui kesengsaraan.
            Sasih Katiga adalah waktu yang baik untuk melakukan pernikahan karena “Akeh Madue Putra” artinya dalam membangun rumah tangga akan banyak memiliki keturunan. Demikian juga pada Sasih Kapat sangat baik untuk melakukan pernikahan karena “Madruwe Artha Brana, Kinasihan Olih Sawitra” artinya dalam membangun rumah tangga akan hidup berlimpah dan dicintai para sahabatnya. Sementara sasih Kalima juga berkategori baik (ayu), untuk melakukan pernikahan karena “Rejeki Akeh” artinya dalam membangun rumah tangga akan berlimpah.
            Tapi pada Sasih Kanem hendaknya dihindari untuk melangsungkan pernikahan, karena “Kapunggelan Tresna” artinya cinta kasih yang tidak kesampaian, susah memiliki keturunan. Sasih Kapitu (Baik), Kawulu dan Kasanga (Tidak baik). Sasih Kawulu, tidak baik melakukan pernikahan, karena “Tan Pasangu, Nandang Sengsara” artinya akan menemukan penderitaan. Sedangkan sasih Kasanga disebut “Kelaran, Kaos Tiwas Liglig” artinya akan sengsara dan miskin selama hidupnya.
            Kadasa (Baik) Jyestha dan Sada (Buruk). Sasih Jyestha buruk untuk melakukan pernikahan karena “ngawe uyut” artinya sasih sumber keributan dan kericuhan dalam memulai rumah tangga. Selanjutnya Sasih Sadha dinyatakan buruk untuk melakukan pernikahan karena “ngawe uyut” artinya serba kekurangan dalam memulai rumah tangga. Sedangkan dari perhitungan ingkel yang buruk untuk melangsungkan pernikahan adalah ingkel wong.
            Banyak perhitungan jelimet yang harus diperhatikan ketika seorang sulinggih atau pemangku ngelebang dewasa (Memberikan patokan hari baik kepada umat yang hendak menggelar ritual). Selain sasih, wuku, wewaran, ingkel, juga bilamana pada suatu hari memiliki perhitungan baik, seperti, dina jaya, kamajaya, dasamerta, dina kahuripan, panca werdi dan sebagainya.

Caru Pengalang Dina Ala
            Seorang umat Hindu (Bali) yang berdomisili di Kalimantan, sebut saja namanya Made Wuku ingin pulang ke Bali untuk melangsungkan pernikahannya. Sayangnya ia terkendala waktu. Cuti hanya tiga hari membuatnya sulit untuk memenuhi kreteria ala ayuning dewasa di dalam menggelar hajatan sakral itu. Tapi, Ida Pandita Mpu Nabe Reka Dharmika Sandhiyasa yang kemudian memuput upacara tersebut dapat mencarikan solusi, sehingga keinginan menggelar ritual bisa berjalan lancar demikian juga swadharma-nya sebagai seorang walaka yang dituntut melakukan Karma Yoga tetap dapat berlangsung. Ida Pandita menjelaskan, ada upakara (bebantenan) yang diperuntukkan untuk pengalang dina ala (tumbal hari buruk), sehingga ‘dewasa ala’ pun masih bisa dilaksanakan yadnya. Untuk pernikahan banten pengalang dina dilakukan upakara di halaman (natar), di bawah tempat tidur (beten rongan) dan di atas tempat tidur. Dan dengan runtutan upakara pengalang dina ala itu, mereka yang melakukan upacara dan ikut terlibat di dalamnya diupayakan pikirannya menjadi ‘ning’. “Sebenarnya yang utama dalam sebuah perhelatan yadnya adalah manah ening, tetapi bagi kita semua kondisi itu sangat sulit dicapai, sehingga masih diperlukan upakara, perhitungan hari baik dan sebagainya guna membuat perasaan nyaman,” tutur Ida Pandita.
            Beliau menambahkan, agama Hindu yang dipraktikkan di Bali terkesan rumit, tetapi sesungguhnya semua solusinya sudah disediakan, tinggal bagaimana kita menerima solusi itu sebagai sebuah kewajaran. Jika untuk melakukan upacara harus menunggu sasih tertentu, sementara yang bersangkutan harus segera berangkat bekerja ke kapal pesiar selama berbulan-bulan, apakah upacaranya harus ditunda? Menurut Ida Pandita yang sering muput di Jawa ini, niat baik termasuk beryadnya hendaknya jangan ditunda-tunda. Bilamana waktu yang dianggap baik tidak ada mengingat singkatnya kesempatan libur dan seterusnya, maka selaian ada banten pengalang dewasa ala untuk menetralisir pengaruh buruk hari dimaksud, juga pentingnya memiliki hasrat ketulusikhlasan dan kepasrahan di dalam beryadnya. Lebih-lebih yang bersangkutan hendak pergi menunaikan Karma Yoga (bekerja) yang juga sangat utama sebagai seorang grhastin atau yang bersiap melangkah ke jenjang itu. Ritual bukanlah satu-satunya kewajiban umat Hindu, jalan Karma Yoga sangat utama di zaman ini, karena itu ketentuan lain dari agama Hindu hendaknya mendukung kelancaran Karma Yoga ini, sehingga umat Hindu semakin aktif dan produktif, di mana saja berada dengan tetap berpijak pada sradha keagamaannya yang kuat.
N. Putrawan
Sumber : http://majalahhinduraditya.blogspot.com/2012/09/menegakkan-dewasa-ayu-pada-ritual-di.htm

Air Dalam Tradisi Veda

I Ketut Sandika
            Alam sama dengan Tuhan atau pantulan dari realitas Tuhan adalah kebenaran yang diterima oleh Veda. Sebab Veda secara implisit menyebutkan manusia hidup dalam kandungan Tuhan (hranyagharba). Oleh karenanya, Veda memberikan penghormatan kepada alam dengan mempersonifikasikan alam sebagai ibu yang melahirkan dan pemberi kahidupan. Alam dalam Samkya Darsana terlahir dan mewakili unsur prakrti sebagai asas material. Dan asas prakerti bertemu dengan unsur purusa (kejiwaan), maka akan terlahir segala yang ada ini. Demikian Veda memaknai dan merepresentasikan alam sebagai asas Tuhan yang realitas. Dengan ini mungkin Hindu dikatakan agama alam. Mengenai Hindu dikatakan agama alam, sesungguhnya kita berterima kasih atas tudingan itu. Karena bagaimanapun agama alam adalah agama yang mencintai alam, Tuhan ada di alam bahkan dekat dengan kita, dan ada dalam diri (alam micro/bhuwana alit), dan kita tidak akan pernah bisa melakukan penafikan, bahwasannya kita hidup di alam, bukan di langit. Sungguh beruntung rasanya kita sebagai agama alam, karena alam yang memberikan kehidupan. Olehnya Veda melalui syair indahnya memberikan keagungan dan penghormatan pada alam maupun unsur-unsur di dalamnya.

            Salah satu dari sekian unsur alam yang mendapatkan penghormatan dan gelar kesucian dalam Veda adalah unsur air. Air dalam tradisi Veda dipuja dan diberikan penghormatan yang tinggi karena dalam Veda, air sangat disucikan sebagai pemberi kehidupan. Tidak ada sama sekali Veda menyebutkan memuja air karena ketakutan. Dalam Veda banyak disebutkan kegunaan air, salah satunya adalah digunakan untuk pengobatan, dan Veda merekomendasikan bahwa air adalah sarana paling efektif untuk merawat kesehatan. Seperti dalam mantram Rgveda X.9.6; Apsu me somo Abravid antar visvani bhesaja yang artinya: Sang Hyang Soma menyebutkan bahwa air memiliki semua faktor penyembuhan. Demikian juga pada mantram Rgveda X.9.5; apo yacami bhesajam yang artinya: Kami mohon pada penguasa air untuk menyembuhkan penyakit kami. Dan, lebih banyak lagi mantram Veda yang menyebutkan kegunaan air untuk pengobatan. Demikian pula air dalam Veda dianggap sebagai pemberi kemuliaan, seperti dalam mantram Atharvaveda VII. 89.1;
Apo divya acayisam, rasenna samaprksmahi, tam ma sam srja varcasa, yang artinya: kami mengumpulkan air dan berhasil mencampurnya dengan air soma, semoga ia memberikan kemuliaan.

            Demikian banyak manfaat air dalam Veda, sehingga tradisi Veda meyakini air sebagai kesucian. Perlu dipahami, bahwa keyakinan itu bukanlah sekedar mitos belaka, akan tetapi atas dasar kebenaran memang air memiliki manfaat yang fundamental dalam kehidupan manusia. Dalam kitab Purana Hindu, air suci diyakini sebagai Dewi Gangga yang tinggal dalam jalinan rambut Dewa Siwa. Dari Dewi Gangga inilah air suci sungai Gangga mengalir, dan tidak akan pernah berhenti mengalir sebagai air surgawi penuh keabadian. Yang mana Dewi Gangga dimohon oleh Bhagirata turun ke dunia untuk menyucikan dan mengampuni dosa dari putra Raja Sagara yang telah dikutuk oleh Rsi Kapila menjadi abu. Akhirnya sang dewi berkenan dan mengalirlah sungai Gangga turun ke dunia menyucikan sekaligus mengampuni putra Sagara.
            Oleh sebab itulah air sungai Gangga diyakini sebagai air surgawi yang penuh dengan kesucian. Dari berbagai belahan dunia datang berendam di sungai Gangga untuk mendapatkan kesucian, penyembuhan dan sebagainya. Demikian pula pada saat perayaan Kumbamela, para Yogin turun gunung dan berendam di sungai Gangga untuk penyucian diri dan bathin. Lantas apakah ini mitos belaka? Atau keyakinan yang buta? Kitab Purana adalah kisah kuna yang dituangkan dalam beragam cerita, dan di dalamnya terkandung makna yang dalam. Cerita turunnya air suci Gangga di samping adalah kebenaran historis, cerita tersebut juga merupakan media pendidikan bagaimana hendaknya kita menjaga alam dalam hal ini air maupun sungai. Air adalah penting untuk kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya, olehnya kita berkewajiban menjaga kebersihan air dan sungai dari pencemaran.
            Kemudian mengenai keyakinan sungai Gangga adalah sungai yang suci, banyak orang bahkan ilmuwan barat telah membuktikannya. Mereka dengan rasa penasaran ingin membuktikan benar tidak air sungai Gangga memiliki kesucian atau keajaiban. Adalah Dr D. Herelle berasal dari Perancis, seorang dokter ahli medis membuktikannya. Ia melakukan penyelidikan dan sekaligus tinggal di tepi sungai Gangga. Hasil penelitiannya menyebutkan bahwa air sungai Gangga benar-benar ajaib, sebab dari observasi yang dilakukan, air sungai Gangga dapat membunuh bakteri disentri dan kolera, demikian juga bakteri yang merugikan manusia. Kemudian dengan penuh kekaguman ia berkata “Suatu mineral yang tidak dikenal yang dikandung oleh air Gangga ternyata dapat membunuh kuman atau bakteri penyakit”. Dr. GE. Nelson seorang kebangsaan Inggris juga melakukan penyelidikan di sungai Gangga dan menyatakan bahwa air sungai Gangga dapat bertahan berbualan-bulan bahkan bertahun-tahun karena air dalam sungai Gangga terkandung anasir-anasir yang tidak dikenal, sehingga dapat bertahan lama. Dr. F.G Harrison seorang ilmuwan juga berpandangan sama, bahwa air sungai Gangga adalah sangat ampuh untuk membunuh kuman apa pun, dan anehnya justru air tersebut jika dimasak akan melahirkan banyak bakteri. Demikian juga para ilmuwan Barat lainnya, menyatakan kekagumannya dengan sungai Gangga, bahkan mereka rela meninggalkan segalanya untuk menyepi di pinggir sungai Gangga.
            Demikian sucinya air sungai Gangga, sehingga tidak ada kuman yang hidup. Air sungai Gangga mengalir disertai dengan keyakinan dan penghormatan kepadanya sebagai air yang suci. Demikian juga air sungai, laut dan kandungan air di alam ini, yang tidak lain adalah air kehidupan yang muncul dari Gangga. Bertumpu pada hal ini, tradisi Veda begitu meyakini air suci sebagai pemberi kesucian dan kehidupan bahkan penghapus segala dosa. Dosa adalah karma dan kita akan nikmati sebagai sebuah konsekuensi, tetapi dengan air suci, karma buruk akan terkikis, sehingga yang tersisa tinggal karma baik. Terlebih, jika kita dapat menyucikan diri di sungai Gangga dan belajar pada aliran airnya yang tenang, menyiratkan bahwa ketenangan jiwa adalah kebutuhan untuk menenangkan arus gelombang pikiran. Dengan air kita dapat hidup, tidak salah kita memberikan penghormatan dan meyakininya sebagai yang dipenuhi kesucian, maka dari itu jaga dan lestarikan air sebagai dewi Gangga pemberi nektar abadi kehidupan.
Om Ganggaya Namah.
Sumber : http://majalahhinduraditya.blogspot.com/2013/04/air-dalam-tradisi-veda.html


Budaya Bali Bernapaskan Agama Hindu
                           WEDA, kitab suci agama Hindu, adalah sabda Tuhan yang bersifat supra empiris. Artinya, diluar pengalaman manusia. Sabda Tuhan tersebut diamalkan manusia secara individual maupun dalam kehidupan sosial dalam masyarakat. Sabda Tuhan itu mahasempurna, sedangkan manusia yang mengamalkannya penuh dengan berbagai keterbatasan atau tidak sempurna. Pengalaman agama dalam kehidupan empiris itu tentu tidak sesempurna sebagaimana yang disabdakan Tuhan.
                           Pengamalan Weda tersebut dinyatakan dalam Manawa Dharmasastra II.12 dan 18 dengan istilah Sadacara. Kala Sadacara berasal dari bahasa Sansekerta, dari kata sat yang artinya kebenaran Weda. Dari kata sat inilah muncul kata satya yang artinya kebenaran Weda. Sedangkan kata acara artinya kebiasaan yang telah menguat dalam masyarakat sampai menjadi adat istiadat. Dengan demikian, Satacara dalam bentuk sandi menjadi Sadacara, artinya tradisi atau adat istiadat berdasarkan Weda.
                           Umumnya, istilah acara ini artinya adat kebiasaan. Adat istiadat itu adalah kegiatan serta karya manusia yang telah melembaga dalam masyarakat. Pengamalan kebenaran Weda sampai mentradisi dalam kehidupan individual maupun dalam kehidupan sosial dalam suatu masyarakat. Ajaran Weda yang sudah mentradisi inilah yang disebut dengan Acara dan Manawa Dharmasastra. Inilah sesungguhnya sebagai suatu kebudayaan. Oleh karena ia berasal dari ajaran Weda, dapatlah disebut kebudayaan Hindu atau kebudayaan Weda.
                           Van Peursen dalam bukunya "Strategi Kebudayaan" (1976) menyatakan bahwa "Kebudayaan itu adalah endapan dari kegiatan dan karya manusia". Berdasarkan konsep kebudayaan Van Peursen ini, ajaran Weda yang telah mentradisi atau sebagai suatu endapan karya dan kegiatan manusia penganut Weda ini dapat disebut kebudayaan Hindu.
                           Sarasamuscaya 260 juga menyatakan agar ajaran Weda ditradisikan. Proses mentradisikan ajaran Weda ini dinyatakan dengan istilah Wedabyasa. Maksudnya agar ajaran Weda itu diwujudkan menjadi tradisi atau kebiasaan hidup dalam masyarakat. Sarasamuscaya 275 menyatakan dengan istilah "mangabiasa dharmasadhana". Artinya mentradisikan pengamalan Dharma.
                           Dari pentradisian pengamalan Dharma atau inti ajaran Weda itulah akan terbentuk kebudayaan Weda atau kebudayaan Hindu dalam kehidupan empiris untuk Hindu. Weda sebagai sabda Tuhan yang supra empiris itu tentunya akan berbeda dalam kehidupan kebudayaan Hindu yang empiris. Artinya, idealisme Weda akan mengalami lebih dan kurang dalam realita kehidupan penganut Weda (Hindu).
                           Perbedaan antara idealisme Weda dan realitanya yang ditradisikan oleh umat penganut Weda akan berbeda-beda antara satu kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat yang lainnya sesama penganut Weda. Perbedaan itu juga akan terjadi antara satu zaman dengan zaman yang lainnya. Kebenaran Weda itu adalah Sanatana Dharma atau kebenaran yang kekal abadi. Sedangkan dalam penerapannya, Weda itu bersifat nutana, artinya selalu dapat diremajakan sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan zaman dalam artinya yang luas.
                           Hal ini terjadi karena alam dan manusia ciptaan Tuhan tidak kekal, sedangkan kebenaran Weda itu kekal. Intisari Weda sebagai jiwa dari tradisi Weda. Demikian halnya dengan keberadaan kebudayaan Bali sebagai wujud pengalaman ajaran agama Hindu di Bali. Kebenaran Weda yang kekal abadi itu diterapkan sesuai dengan keberadaan alam dan manusia Bali. Penerapan ajaran Weda (agama Hindu) disesuaikan dengan keberadaan alam, manusia dan perubahan zaman atau waktu.

Lima Pertimbangan

                           Dalam Manawa Dharmasastra VII.10 ada dinyatakan bahwa untuk mensukseskan pengamalan Dharma (agama Hindu), hendaknya diterapkan berdasarkan lima pertimbangan yakni Iksha (pandangan masyarakat penganut Weda), Sakti (kemampuan), Desa (aturan rokhani yang sudah ada), Kala (waktu) dan Tattwa (kebenaran Weda).
                           Maksud sloka Manawa Dharmasastra tersebut adalah memberikan konsep untuk mensukseskan tujuan Dharma (agama Hindu). Artinya, penerapan Dharma itu akan sukses jika diterapkan berdasarkan pertimbangan seperti yang dinyatakan dalam Sloka Manawa Dharmasastra. Penerapan Dharma agar sukses jika diterapkan sesuai dengan pandangan masyarakat (Iksha), kemampuan umat (Sakti), aturan rokhani yang sudah berlaku (Desa), disesuaikan dengan waktu (Kala).
                           Yang penting tidak bertentangan dengan kebenaran Weda itu sendiri (Tattwa). Ini artinya Tattwa kebenaran itu harus diterapkan dengan disesuaikan dengan Iksha, Sakti, Desa dan Kala. Tujuannya sebagai media mengkemas pengamalan Tattwa.
                           Demikianlah halnya dengan kebudayaan Bali sebagai wujud penerapan Tattwa agama Hindu yang didasarkan pada pertimbangan keberadaan Iksha, Sakti, Desa dan Kala-nya daerah Bali. Dengan kata lain, kebudayaan Bali itu sebagai badan wadagnya agama Hindu. Sedangkan Tattwa atau kebenaran Weda itu sebagai jiwanya agama Hindu di Bali.
                           Dengan adanya lima dasar pengamalan Weda itulah bentuk luar agama Hindu berbeda-beda di setiap daerah. Itu karena keberadaan Iksha, Sakti, Desa dan Kala dari daerah satu dengan daerah lainnya berbeda-beda. Hal itulah menyebabkan bentuk luar kebudayaan Hindu berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lainnya.
                           Meskipun demikian, intinya tetap sama yaitu kebenaran Weda yang kekal abadi. Dengan demikian tidaklah tepat mempertentangkan perbedaan kemasan budaya Hindu yang berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Adanya saling pengaruh mempengaruhi antara budaya Hindu yang berbeda-beda itu tentunya sah-sah saja. Sepanjang pengaruh-mempengaruhi itu berjalan secara harmonis, wajar dan berdasarkan kebenaran.
                           Demikianlah proses terbentuknya kebudayaan Bali yang dijiwai oleh agama Hindu. Budaya Bali akan ajeg apabila dinamika budaya Bali itu tidak meninggalkan jiwanya yaitu agama Hindu. Perubahan budaya Bali tidak sampai meninggalkan jiwanya yang disebut Tattwa.

Sumber: http://www.balipost.com/mediadetail.php?module=detailberitaminggu&kid=25&id=8703

Selasa, 23 April 2013

Contoh Latar Belakang KTI



BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Anak merupakan generasi penerus berlangsungnya kehidupan manusia dalam hal ini. Undang-Undang Perlindungan Anak No. 23 Tahun 2002 menerangkan  Bahwa anak adalah amanah dan karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang dalam dirinya melekat harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya. Definisi anak pada Pasal 1 disebutkan bahwa yang dimaksud dengan seorang anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.dalam rentang umur ini anak masih rentang pada kesalahan sehingga perlu pengawasan dari orang yang lebih dewasa, dalam hal ini adalah orng tua dari si anak. Pola pikir dan tingkah laku yang ditunjukkan oleh si anak masih digolongkan dalam kategori belajar dan belum sesempurna seperti yang ditunjukkan oleh orang dewasa. Anak harus sering – sering bersosialisasi untuk menyempuranakan pola pikirnya dan tingkah lakunya. Oleh karena itu, dalam hal ini orang dewasa harus mampu membimbing dan memandu anak – anak untuk menyempurnakan kelakuannya dan mengarahkan agar anak tidak sering melakukan penyimpangan di kehidupannya mendatang.
Daya pikir dari anak masih terbtas bila di usia dini dan akan terus berkembang mengikuti berbagai pengalaman yang ia dapatkan. Pengalaman itu bisa diperoleh dari kehidupan sehari – hari yang dialami si anak. Hal itu bisa berupa mengingat, menghubungkan, mengkaitkan, menggolongkan, memberikan simbol, mengkhayal, menciptakan sesuatu, dan lain – lain. Dengan melakukan hal – hal tersebut, diharapkan anak nantinya dapat berpikir rasional, berpikir yang sesuai dengan logika, hukum alam dan kenyataan. Untuk mencapai hal tersebut, biasanya anak – anak, mulai usia SD, bahkan TK, namun pada umumnya SD, dipaksa oleh para orang tuanya untuk belajar dan belajar tentang pelajaran – pelajaran di sekolah. Pelajaran yang biasanya diberikan adalah pelajaran – pelajaran tentang teori. Memang benar daya pikir rasional si anak akan berkembang, namun jika hal ini dilangsungka secara terus – menerus, anak akan menjadi jenuh dan berusaha meninggalkan pelajaran. Dan parahnya, orang tua malah terus memaksa anaknya untuk belajar. Orang tua sekarang seakan lupa akan karaktersitik anak sesungguhnya yang mudah bosan. Dan yang juga yang tidak disadari oleh orang tua adalah dengan bermain sebenarnya daya pikir rasional anak akan semakin berkembang. Sederhana, menghasilkan, namun dianggap remeh.
Permainan yang dilakukan tida perlu terlalu rumit, cukup sederhana saja seperti kebanyakan  permainan tradisional di masing – masing daerah.  Permainan tradisiobal tidak memerlukan biaya yang banyak dan alat – alat yang rumit serta sulit dicari karena permainan tradisional memanfaatkan alat – alat yang ada di lingkungan sekitar, hal ini tidak mampu ditampilkan oleh game – game canggih yang marak beberapa tahun belakangan ini. Selain itu memainkan game online  mengurangi interaksi sosial penggunanya karena bersifat virtual. Dengan melakukan permainan tradisional, terutama yang dilakukan berkelompok akan mampu meningkatkan interaksi sosial yang terjadi di dalamnya. Tidak melupakan keunggulan lainnya yang telah disinggung di atas, permainan tradisional juga ampuh untuk meningkatkan daya pikir rasional anak. Hal ini bisa dilihat dari penerapan permainan tradisional, seperti dalam permainan petak umpat, anak akan dilatih berpikir rasional dalam menemukan tempat persembunyian agar tidak mudah ditemukan. Di beberapa permainan tradisional lainnya, anak dilatih untuk mengatur strategi agar bisa menang dalam permainan. Dengan kata lain, dimungkinkan jika permainan tradisional dapat digunakan sebagai solusi alternatif untuk meningkatkan daya pikir rasional anak. Oleh karena itu, kali ini kami mengangkat judul karya tulis, “PERMAINAN TRADISIONAL SEBAGAI SOLUSI ALTERNATIF MENINGKATKAN DAYA PIKIR RSIONAL ANAK”.

1.2.Rumusan Masalah:
1.2.1.      Bagaimana penerapan permainan tradisional agar bisa meningkatkan daya pikir rasional anak?
1.2.2.      Bagaimana cara mengaplikasikan permainan tradisional di dunia modern?

1.3.Tujuan Penulisan:
1.3.1.      Untuk mengetahui bagaimana permainan tradisional agar bisa meningkatkan daya pikir rasional anak.
1.3.2.      Untuk mengetahui bagaimana cara mengaplikasikan permainan tradisional di dunia modern.

Senin, 21 Januari 2013

Björk Guðmundsdóttir


Hola!!!
Kali ini saya ingin menarasikan salah satu musisi yang berpengaruh dalam hidup saya buat kita semua. Setelah sekian lama tidak memberikan postingan baru,..oke, tak lama - lama langsung bahas saja:

Björk Guðmundsdóttir 


ok well, sekarang saatnya memberikan opini yang sarat akan unsur subjektivitas (jadi suka - suka dong!!). Pertama kali mendengar suara Bjork memang belum lama. Belum lewat satu bulan lah. Tapi telat beribu telat untuk mendengarkan lagu - lagu hebatnya. Dia kan sudah berjaya di pasar musik dunia sejak aku belum lahir. Lagu - lagu yang dibawakan oleh Bjork bukanlah lagu yang ringan. Lagunya penuh akan eksperimen - eksperimen unik dan menantang.. so ini salah satunya: