Selasa, 03 September 2013
Rabu, 22 Mei 2013
ARTIKEL BERKAITAN DENGAN WEDA
Melupakan Ajaran Weda Memperpendek
Umur
HAKIKAT isi Weda
adalah kebenaran yang kekal abadi atau Sanatana Dharma. Kebenaran Weda adalah
sesuatu yang menuntun umat manusia semakin dekat dengan kehendak Tuhan. Bentuk tuntutan
menuju jalan Tuhan itu bermacam-macam. Tuhan menciptakan banyak jalan karena
keberadaan umat manusia itu penuh dengan keanekaragaman. Manusia sangat
beraneka ragam, baik kadar intelektualnya, kadar emosinya maupun kadar
spiritualnya. Karena itu tidak mungkin manusia diajak menempuh hanya satu
jalan. Lebih-lebih menyangkut masyarakat keyakinan sebagai aspek hidup manusia
yang terdalam. Keberanekaragaman umat manusia ini disebabkan oleh keberadaan
ruang dan waktu yang terus berputar. Manusia lahir dan hidup diruang dan waktu
yang berbeda-beda. Hal ini menyebabkan manusia hidup di lingkungan yang
berbeda-beda. Berbeda lingkungan alamnya, lingkungan sosialnya maupun
lingkungan rokaninya. Hal itulah menyebabkan terciptanya jalan yang sangat
beraneka ragam menuju jalan Tuhan.
Banyaknya jalan
menuju jalan Tuhan itu sudah diajarkan dalam kitab suci Weda. Tidakkah tepat
kalau ada pihak yang mengklaim bahwa bentuk tuntunan ke jalan Tuhan yang
diyakininyalah yang paling benar dan yang lainnya salah. Demikian jugalah kitab
suci Weda yang memuat kebenaran yang kekal dan abadi diwujudkan dalam berbagai
jalan dan tradisi. Umat boleh bebas memilih jalan yang mana pun yang dipilih
asalkan itu jalan menuju jalan Tuhan. Mencela orang lain yang memilih jalan
berbeda dengan diri itu sama dengan mencela jalan Weda. Jangankan mencela Weda
melupakan Weda saja sudah dinyatakan sebagai jalan yang sesat.
Dalam kitab Manawa
Dharmasastra V.4 dinyatakan bahwa Sang Hyang Mrtyu (Dewa Kematian) berhak
memperpendek umur para Brahmana kalau melupakan Weda (anabhyaasena wedanam).
Demikian juga kalau menyeleweng dari tradisi Weda (aacaarasya), teledor
melakukan tugas-tugas, memakan makanan yang terlarang. Semua perbuatan itu akan
dapat memperpendek umur para Brahmana.
Bhagawad Gita IV.11
sudah menetapkan petunjuk bahwa jalan yang manapun yang ditempuh oleh umat
manusia sepanjang jalan itu jalan menuju Tuhan, Tuhan pun akan menerima lewat
jalan itu juga. Tuhan berada di mana-mana termasuk di semua jalan Weda yang
ditempuh oleh umat manusia menuju-Nya.
Orang yang mencela
jalan yang berbeda dengan jalan yang ditempuhnya disebabkan oleh kesombongan
dan membangga - banggakan jalan yang ditempuhnya dengan menganggap remeh jalan
yang dipilih oleh orang lain. Sombong dan membanggakan diri disebutkan sebagai
sifat dari Asura atau raksasa dalam Bhagawad Gita XVI.4. Karena itu marilah
kita hormati perbedaan cara menempuh jalan menuju jalan Tuhan. Lebih-lebih pada
zaman yang disebut oleh para ilmuwan sebagai zaman post modern. Ciri utama dari
zaman post modern ini adalah keadaan yang serba pluralistis di berbagai
kehidupan. Kita akan stres berat kalau tidak bersikap loyal dan toleran pada
perbedaan cara yang ditempuh oleh sesama manusia dalam melakukan kehidupan ini.
Apalagi dalam memilih cara beragama yang memang sudah dijamin oleh norma hukum
dan norma Agama itu sendiri. Karena banyak pihak yang menginginkan agar cara
yang dipilihnyalah juga dipilih oleh semua orang. Sedangkan pada kenyataannya
hal itu tidak mungkin terjadi. Apalagi pada era post modern ini. Hal
tersebutlah yang akan menimbulkan stress yang dapat memerpendek umur.
Marilah kita
bahagia hidup dalam keaneka ragaman budaya. Yang penting harus dijaga
keanekaragaman tersebut membawa pada kemajuan hidup lahir dan batin berdasarkan
kebenaran kitab suci sabda Tuhan.
Sikap inilah yang
mungkin dianut oleh leluhur umat Hindu dimasa lampau di Jawa dan Bali
di masa lampau. Dari sikap yang bijaksana seperti itulah melahirkan budaya
Hindu di Jawa dan Bali menjadi budaya Hindu yang adi luhung seperti yang
kita warisi dewasa ini. Sikap loyal dan toleran itu menyebabkan Ramayana dan
Mahabharata yang asalnya dari India diterima di Jawa. Demikian juga saat Bali
diperintah oleh Raja Udayana bersama dengan permaisurinya, susastra Jawa Kuna
masuk ke Bali. Seperti karya sastra Ramayana dan Mahabharata yang
sudah berbahasa Jawa Kuna dan karya sastra Jawa kuno lainnya. Demikian juga
pengaruh dari Cina, Mesir, Eropa, dan lain-lain memperkuat dinamika budaya
Hindu di Bali. Yang penting tattwa atau kebenaran Hindu menurut Weda
teraplikasikan dalam kehidupan masyarakat luas.
Namun proses
keterbukaan dalam menjaga dinamika budaya Hindu di Bali sepertinya mendapat
tantangan dari pihak-pihak yang tidak ingin melanjutkannya. Syukurlah sikap
demikian itu banyak mendapat tantangan dari pihak-pihak yang menginginkan
dinamika budaya Hindu tetap ajek menjadi wadah pengamalan tattwa agama Hindu
dalam kehidupan sesuai dengan kebutuhan zaman.
Sumber:
biets.tripod.com/artikel_l2.htm
Ashram, Tradisi Weda di Zaman Modern
Gagasan tentang
ashram atau pasraman sebagai tempat penggemblengan mental spiritual akhir-akhir
ini mencuat kembali. Memang sangat menarik untuk dikaji bersama karena
menyangkut sumber daya manusia Hindu yang kita harapkan.
Dalam Hindu
(tradisi Weda) istilah ashram tidak asing lagi, seperti halnya dengan
warnashrama dharma, yang meliputi catur warna dan catur ashrama.
Sekarang ramai
diwacanakan untuk pembentukan ashram atau pasraman kilat. Bahkan pura atau
balai banjar akan dijadikan pasraman kilat tersebut, hendaknya mengacu kepada
tradisi Weda, sebab esensi dari ashram adalah untuk menimba pengetahuan rohani.
Sedangkan sekolah-sekolah formal untuk pengetahuan modern.
Selain adanya
transformasi nilai-nilai ajaran Weda, di ashram juga diterapkan disiplin yang
ketat sesuai dengan yang ditetapkan dalam kitab suci Weda. Seperti
prinsip-prinsip tegaknya dharma yaitu tidak melakukan kekerasan dalam arti
tidak melakukan pembunuhan hewan, tidak melakukan kekerasan baik kekerasan
pikiran, perkataan dan perbuatan. Prinsip berikutnya adalah melakukan tapasia
(pengendalian diri) dengan tidak meminum minuman beralkohol, obat terlarang,
kopi, rokok dan sejenisnya, menjaga kejujuran dengan tidak melakukan judi dan
menjaga kesucian badan dengan tidak melakukan hubungan seks.
Selain sebagai
pusat menggembleng disiplin tersebut di ashram juga secara rutin dilakukan
persembahyangan/melakukan pelayanan bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam
wujud Arca Vigraha, melantunkan doa/nyanyian pujian kepada Nama Suci Tuhan,
berjapa (mengucapkan nama suci Tuhan dengan memakai japa), dan pelajaran atau
membaca sloka-sloka Weda terutama Bhagavadgita, Bhagavatam Purana atau sastra
Weda lainnya. Kebetulan saya pernah mengunjungi beberapa ashram yang ada di Bali,
memang terasa nuansa yang sangat rohani, benar-benar merupakan tempat suci yang
sesungguhnya, mungkin seperti itulah tradisi Weda ribuan tahun yang lalu. Di
ashram tinggal beberapa orang brahmacari untuk melakukan pelayanan bhakti.
Suasananya pun menjadi khusyuk ketika kidung-kidung suci/bhajan dikumandangkan
oleh bhrahmacari.
Kadangkala ashram
kedatangan seorang guru kerohanian atau Sanyasi untuk memberikan pelajaran Weda
dan ajaran-ajaran Ketuhanan, sesekali diadakan upacara diksa sebagai wujud
bahwa seseorang telah berguru untuk belajar Weda kepada guru kerohanian
tersebut.
Latar belakang
brahmacari beraneka ragam dari segi etnis dan sosial, ada beberapa brahmacari
yang sebelumnya penjudi berat, pemabuk berat dan sejenisnya, namun kini setelah
tinggal di ashram telah sepenuhnya sadar dan meninggalkan kehidupan berdosa
tersebut serta menyerahkan diri sepenuhnya di ashram sebagai pelayan Tuhan.
Dari sisi pembinaan generasi muda sangat positif, makin banyak ada ashram makin
banyak pula generasi muda dapat diselamatkan.
Saat ini di Bali
memang telah banyak berdiri ashram-ashram, baik milik pribadi ataupun kelompok
spiritual tertentu. Namun pada prinsipnya metode dan isi dalam mentransformasi
nilai-nilai ajaran Weda tidak jauh berbeda. Bila ada upaya untuk membentuk
ashram, maka setidaknya pola-pola di atas dapat dipakai sebagai rujukan,
sehingga opini publik tentang ashram adalah positif. Tetapi bila sekadar
mewujudkan ashram, minta bantuan dari pemerintah atau donatur, namun
kegiatannya masih seperti yang kita lihat, kebiasaan minum alkohol, mabuk,
berjudi/tajen dan sejenisnya, tidak akan banyak manfaatnya, malah akan
melebarkan permasalahan yang dihadapi saat ini.
Menurut hemat
saya, sebaiknya ashram-ashram yang sudah ada didata kembali kemudian
dikembangkan dan direkomendasi untuk membentuk pasraman kita untuk mengisi masa
liburan sekolah.
Dr. Made
Wardhana, Sp.KK.
Candra Asri D.19
Denpasar
Menegakkan Dewasa
Ayu pada Ritual di Zaman Modern
Dalam Bhagavata Purana dikisahkan
saat Parikesit lahir, para rsi dan muni berkumpul untuk menghitung formasi
bintang dan benda-benda angkasa guna mengetahui nasib si bayi yang baru lahir
itu. Alhasil, konon dengan perhitungan ilmu Jyotisha, sejak kelahirannya
Parikesit sudah diramalkan bakalan meninggal akibat dipatuk ular.
Astrologi dan
astronomi dalam khasanah Weda dikenal dengan nama Jyotisha. Jyotisha secara
harfiah berarti "Lord of Light" atau "studi tentang cahaya"
mencakup terang dari langit maupun dalam "melihat" seseorang. Ini
adalah model dari realitas yang menafsirkan kondisi diamati kosmos pada saat
acara - seperti kelahiran - dalam rangka untuk memberikan gambaran ke dalam
sifat dan peristiwa pada periode selanjutnya.
Jyotisha
berdiri di garis depan sistem ramalan India dan dikenal sebagai "mata
dari Veda". Veda (pengetahuan) adalah kognisi besar dari Resi kuno (orang
bijak) yang merupakan dasar dari budaya India dan filsafat yang menguraikan
inti pengetahuan tentang Brahman - roh murni abadi yang mendasari semua
makhluk, semua objek dan pengalaman. Jyotisha sendiri adalah Vedanga - salah
satu dari enam anggota badan dari Veda yang mendukung dan mempertahankan
pengetahuan berharga dan memungkinkan untuk ditekuni terus dari generasi ke
generasi.
Jyotisha adalah
unik dalam kemampuannya secara umum dan berlaku untuk semua waktu, tempat dan
individu. Karena alasan ini bahwa Jyotisha karena itu relevan dalam membimbing
setiap orang menuju pemahaman yang lebih luas sehubungan dengan tempat kita di
alam semesta, sehingga dapat mengetahui siapa diri kita di bentangan semesta
yang maha luas ini. Juga pengetahuan mengenai dari mana kita berasal dan ke
mana kita akan pergi. Jyotisha adalah alat yang ampuh dalam menerangi apa yang
sebelumnya mungkin telah menjadi misteri dari rantai sebab dan akibat dan
dengan demikian memungkinkan seorang individu untuk memahami dan menemukan
keselarasan dengan hidupnya di masa kini.
Seperti
semua mata pelajaran klasik India, Jyotisha benar-benar sebuah
studi yang indah yang mencakup disiplin ilmu lain dan berkembang pada
pengikutnya perpaduan unik dari logika, intuisi, pragmatisme, analisis dan
sintesis. Memang, Jyotisha adalah "sadhana", sebuah jalan spiritual
yang dapat mengubah kehidupan seseorang secara permanen.
Ala Ayuning Dewasa
Menurut
Jyotisha, setiap waktu dipengarhui oleh konfigurasi benda-benda angkasa dan
siapa yang lahir pada masa tertentu, maka bakat, watak dan nasibnya dapat
dibaca berdasarkan pengaruh kosmos itu. Adalah Karma Phala yang memungkinkan
seseorang terlahir pada waktu tertentu sesuai bobot karma yang telah dibuatnya
pada masa sebelumnya. Demikian berpengaruhnya konfigurasi planet-planet
angkasa, bagi kehidupan di bumi, maka bila hendak memulai suatu aktifitas baru
diusahakan memilih waktu yang tepat. Seseorang berpikir untuk memulai
usaha-usaha di bidang kebaikan, entah pembangunan, ritual, perjalanan dan
sebagainya, maka diusahakan memperoleh dukungan dari energi makrokosmos yang
terbaca lewat ilmu Jyotisha. Dan di Bali ilmu ini lumrah dikenal sebagai
uger-uger padewasan atau uger-uger ala ayuning dewasa.
Ala ayuning dewasa di Bali menguraikan tentang perhitungan
hari – hari yang sangat baik untuk melaksanakan upacara dan dan kegiatan
lainnya, serta ada juga hari yang harus dihindari dalam pelaksanaan suatu
kegiatan. Ida Pandita Mpu Nabe Reka Dharmika Sandhiyasa dari Geriya Kayumas
Kaja mengatakan, dalam penentuan waktu ritual ada banyak pilihan, karena
ketentuannya adalah, wewaran alah dening wuku, wuku alah dening panglong,
panglong alah dening sasih, sasih alah dening dauh dan dauh alah dening ning.
Menurut Ida
Pandita Mpu Nabe, misalnya dewasa ayu berdasarkan sasih untuk upacara pawiwahan
(Pernikahan), maka ketentuannya adalah Sasih Kaso, Karo (Buruk). Sasih Kasa
buruk untuk melakukan pernikahan karena “kasengsaran” artinya dalam membangun
rumah tangga akan menemui kesengsaraan, anak sakit – sakitan. Kemudian Sasih
Karo juga buruk untuk melakukan pernikahan karena “Punggung Tiwas, Nemu
Sungsut” artinya dalam membangun rumah tangga akan menemui kesengsaraan.
Sasih Katiga
adalah waktu yang baik untuk melakukan pernikahan karena “Akeh Madue Putra”
artinya dalam membangun rumah tangga akan banyak memiliki keturunan. Demikian
juga pada Sasih Kapat sangat baik untuk melakukan pernikahan karena “Madruwe
Artha Brana, Kinasihan Olih Sawitra” artinya dalam membangun rumah tangga akan
hidup berlimpah dan dicintai para sahabatnya. Sementara sasih Kalima juga
berkategori baik (ayu), untuk melakukan pernikahan karena “Rejeki Akeh” artinya
dalam membangun rumah tangga akan berlimpah.
Tapi pada Sasih
Kanem hendaknya dihindari untuk melangsungkan pernikahan, karena “Kapunggelan
Tresna” artinya cinta kasih yang tidak kesampaian, susah memiliki keturunan.
Sasih Kapitu (Baik), Kawulu dan Kasanga (Tidak baik). Sasih Kawulu, tidak baik
melakukan pernikahan, karena “Tan Pasangu, Nandang Sengsara” artinya akan
menemukan penderitaan. Sedangkan sasih Kasanga disebut “Kelaran, Kaos Tiwas
Liglig” artinya akan sengsara dan miskin selama hidupnya.
Kadasa (Baik)
Jyestha dan Sada (Buruk). Sasih Jyestha buruk untuk melakukan pernikahan karena
“ngawe uyut” artinya sasih sumber keributan dan kericuhan dalam memulai rumah
tangga. Selanjutnya Sasih Sadha dinyatakan buruk untuk melakukan pernikahan
karena “ngawe uyut” artinya serba kekurangan dalam memulai rumah tangga.
Sedangkan dari perhitungan ingkel yang buruk untuk melangsungkan pernikahan
adalah ingkel wong.
Banyak
perhitungan jelimet yang harus diperhatikan ketika seorang sulinggih atau
pemangku ngelebang dewasa (Memberikan patokan hari baik kepada umat yang hendak
menggelar ritual). Selain sasih, wuku, wewaran, ingkel, juga bilamana pada
suatu hari memiliki perhitungan baik, seperti, dina jaya, kamajaya, dasamerta,
dina kahuripan, panca werdi dan sebagainya.
Caru Pengalang Dina Ala
Seorang
umat Hindu (Bali) yang berdomisili di Kalimantan, sebut saja namanya Made Wuku
ingin pulang ke Bali untuk melangsungkan pernikahannya. Sayangnya ia
terkendala waktu. Cuti hanya tiga hari membuatnya sulit untuk memenuhi kreteria
ala ayuning dewasa di dalam menggelar hajatan sakral itu. Tapi, Ida Pandita Mpu
Nabe Reka Dharmika Sandhiyasa yang kemudian memuput upacara tersebut dapat
mencarikan solusi, sehingga keinginan menggelar ritual bisa berjalan lancar
demikian juga swadharma-nya sebagai seorang walaka yang dituntut melakukan
Karma Yoga tetap dapat berlangsung. Ida Pandita menjelaskan, ada upakara
(bebantenan) yang diperuntukkan untuk pengalang dina ala (tumbal hari buruk),
sehingga ‘dewasa ala’ pun masih bisa dilaksanakan yadnya. Untuk pernikahan
banten pengalang dina dilakukan upakara di halaman (natar), di bawah tempat
tidur (beten rongan) dan di atas tempat tidur. Dan dengan runtutan upakara
pengalang dina ala itu, mereka yang melakukan upacara dan ikut terlibat di
dalamnya diupayakan pikirannya menjadi ‘ning’. “Sebenarnya yang utama dalam
sebuah perhelatan yadnya adalah manah ening, tetapi bagi kita semua kondisi itu
sangat sulit dicapai, sehingga masih diperlukan upakara, perhitungan hari baik
dan sebagainya guna membuat perasaan nyaman,” tutur Ida Pandita.
Beliau
menambahkan, agama Hindu yang dipraktikkan di Bali terkesan rumit, tetapi
sesungguhnya semua solusinya sudah disediakan, tinggal bagaimana kita menerima
solusi itu sebagai sebuah kewajaran. Jika untuk melakukan upacara harus
menunggu sasih tertentu, sementara yang bersangkutan harus segera berangkat
bekerja ke kapal pesiar selama berbulan-bulan, apakah upacaranya harus ditunda?
Menurut Ida Pandita yang sering muput di Jawa ini, niat baik termasuk beryadnya
hendaknya jangan ditunda-tunda. Bilamana waktu yang dianggap baik tidak ada
mengingat singkatnya kesempatan libur dan seterusnya, maka selaian ada banten
pengalang dewasa ala untuk menetralisir pengaruh buruk hari dimaksud, juga
pentingnya memiliki hasrat ketulusikhlasan dan kepasrahan di dalam beryadnya.
Lebih-lebih yang bersangkutan hendak pergi menunaikan Karma Yoga (bekerja) yang
juga sangat utama sebagai seorang grhastin atau yang bersiap melangkah ke
jenjang itu. Ritual bukanlah satu-satunya kewajiban umat Hindu, jalan Karma
Yoga sangat utama di zaman ini, karena itu ketentuan lain dari agama Hindu
hendaknya mendukung kelancaran Karma Yoga ini, sehingga umat Hindu semakin
aktif dan produktif, di mana saja berada dengan tetap berpijak pada sradha
keagamaannya yang kuat.
N. Putrawan
Sumber : http://majalahhinduraditya.blogspot.com/2012/09/menegakkan-dewasa-ayu-pada-ritual-di.htm
Air Dalam Tradisi Veda
I Ketut Sandika
Alam sama dengan Tuhan atau pantulan
dari realitas Tuhan adalah kebenaran yang diterima oleh Veda. Sebab Veda secara
implisit menyebutkan manusia hidup dalam kandungan Tuhan (hranyagharba). Oleh karenanya,
Veda memberikan penghormatan kepada alam dengan mempersonifikasikan alam
sebagai ibu yang melahirkan dan pemberi kahidupan. Alam dalam Samkya Darsana
terlahir dan mewakili unsur prakrti sebagai asas material. Dan asas prakerti
bertemu dengan unsur purusa (kejiwaan), maka akan terlahir segala yang ada ini.
Demikian Veda memaknai dan merepresentasikan alam sebagai asas Tuhan yang
realitas. Dengan ini mungkin Hindu dikatakan agama alam. Mengenai Hindu
dikatakan agama alam, sesungguhnya kita berterima kasih atas tudingan itu.
Karena bagaimanapun agama alam adalah agama yang mencintai alam, Tuhan ada di
alam bahkan dekat dengan kita, dan ada dalam diri (alam micro/bhuwana alit),
dan kita tidak akan pernah bisa melakukan penafikan, bahwasannya kita hidup di
alam, bukan di langit. Sungguh beruntung rasanya kita sebagai agama alam,
karena alam yang memberikan kehidupan. Olehnya Veda melalui syair indahnya
memberikan keagungan dan penghormatan pada alam maupun unsur-unsur di dalamnya.
Salah satu dari sekian unsur alam yang mendapatkan penghormatan dan gelar kesucian dalam Veda adalah unsur air. Air dalam tradisi Veda dipuja dan diberikan penghormatan yang tinggi karena dalam Veda, air sangat disucikan sebagai pemberi kehidupan. Tidak ada sama sekali Veda menyebutkan memuja air karena ketakutan. Dalam Veda banyak disebutkan kegunaan air, salah satunya adalah digunakan untuk pengobatan, dan Veda merekomendasikan bahwa air adalah sarana paling efektif untuk merawat kesehatan. Seperti dalam mantram Rgveda X.9.6; Apsu me somo Abravid antar visvani bhesaja yang artinya: Sang Hyang Soma menyebutkan bahwa air memiliki semua faktor penyembuhan. Demikian juga pada mantram Rgveda X.9.5; apo yacami bhesajam yang artinya: Kami mohon pada penguasa air untuk menyembuhkan penyakit kami. Dan, lebih banyak lagi mantram Veda yang menyebutkan kegunaan air untuk pengobatan. Demikian pula air dalam Veda dianggap sebagai pemberi kemuliaan, seperti dalam mantram Atharvaveda VII. 89.1; Apo divya acayisam, rasenna samaprksmahi, tam ma sam srja varcasa, yang artinya: kami mengumpulkan air dan berhasil mencampurnya dengan air soma, semoga ia memberikan kemuliaan.
Demikian banyak manfaat air dalam Veda, sehingga tradisi Veda meyakini air sebagai kesucian. Perlu dipahami, bahwa keyakinan itu bukanlah sekedar mitos belaka, akan tetapi atas dasar kebenaran memang air memiliki manfaat yang fundamental dalam kehidupan manusia. Dalam kitab Purana Hindu, air suci diyakini sebagai Dewi Gangga yang tinggal dalam jalinan rambut Dewa Siwa. Dari Dewi Gangga inilah air suci sungai Gangga mengalir, dan tidak akan pernah berhenti mengalir sebagai air surgawi penuh keabadian. Yang mana Dewi Gangga dimohon oleh Bhagirata turun ke dunia untuk menyucikan dan mengampuni dosa dari putra Raja Sagara yang telah dikutuk oleh Rsi Kapila menjadi abu. Akhirnya sang dewi berkenan dan mengalirlah sungai Gangga turun ke dunia menyucikan sekaligus mengampuni putra Sagara.
Salah satu dari sekian unsur alam yang mendapatkan penghormatan dan gelar kesucian dalam Veda adalah unsur air. Air dalam tradisi Veda dipuja dan diberikan penghormatan yang tinggi karena dalam Veda, air sangat disucikan sebagai pemberi kehidupan. Tidak ada sama sekali Veda menyebutkan memuja air karena ketakutan. Dalam Veda banyak disebutkan kegunaan air, salah satunya adalah digunakan untuk pengobatan, dan Veda merekomendasikan bahwa air adalah sarana paling efektif untuk merawat kesehatan. Seperti dalam mantram Rgveda X.9.6; Apsu me somo Abravid antar visvani bhesaja yang artinya: Sang Hyang Soma menyebutkan bahwa air memiliki semua faktor penyembuhan. Demikian juga pada mantram Rgveda X.9.5; apo yacami bhesajam yang artinya: Kami mohon pada penguasa air untuk menyembuhkan penyakit kami. Dan, lebih banyak lagi mantram Veda yang menyebutkan kegunaan air untuk pengobatan. Demikian pula air dalam Veda dianggap sebagai pemberi kemuliaan, seperti dalam mantram Atharvaveda VII. 89.1; Apo divya acayisam, rasenna samaprksmahi, tam ma sam srja varcasa, yang artinya: kami mengumpulkan air dan berhasil mencampurnya dengan air soma, semoga ia memberikan kemuliaan.
Demikian banyak manfaat air dalam Veda, sehingga tradisi Veda meyakini air sebagai kesucian. Perlu dipahami, bahwa keyakinan itu bukanlah sekedar mitos belaka, akan tetapi atas dasar kebenaran memang air memiliki manfaat yang fundamental dalam kehidupan manusia. Dalam kitab Purana Hindu, air suci diyakini sebagai Dewi Gangga yang tinggal dalam jalinan rambut Dewa Siwa. Dari Dewi Gangga inilah air suci sungai Gangga mengalir, dan tidak akan pernah berhenti mengalir sebagai air surgawi penuh keabadian. Yang mana Dewi Gangga dimohon oleh Bhagirata turun ke dunia untuk menyucikan dan mengampuni dosa dari putra Raja Sagara yang telah dikutuk oleh Rsi Kapila menjadi abu. Akhirnya sang dewi berkenan dan mengalirlah sungai Gangga turun ke dunia menyucikan sekaligus mengampuni putra Sagara.
Oleh sebab
itulah air sungai Gangga diyakini sebagai air surgawi yang penuh dengan
kesucian. Dari berbagai belahan dunia datang berendam di sungai Gangga untuk
mendapatkan kesucian, penyembuhan dan sebagainya. Demikian pula pada saat
perayaan Kumbamela, para Yogin turun gunung dan berendam di sungai Gangga untuk
penyucian diri dan bathin. Lantas apakah ini mitos belaka? Atau keyakinan yang
buta? Kitab Purana adalah kisah kuna yang dituangkan dalam beragam cerita, dan
di dalamnya terkandung makna yang dalam. Cerita turunnya air suci Gangga di
samping adalah kebenaran historis, cerita tersebut juga merupakan media
pendidikan bagaimana hendaknya kita menjaga alam dalam hal ini air maupun
sungai. Air adalah penting untuk kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup
lainnya, olehnya kita berkewajiban menjaga kebersihan air dan sungai dari
pencemaran.
Kemudian mengenai
keyakinan sungai Gangga adalah sungai yang suci, banyak orang bahkan ilmuwan
barat telah membuktikannya. Mereka dengan rasa penasaran ingin membuktikan
benar tidak air sungai Gangga memiliki kesucian atau keajaiban. Adalah Dr D.
Herelle berasal dari Perancis, seorang dokter ahli medis membuktikannya. Ia
melakukan penyelidikan dan sekaligus tinggal di tepi sungai Gangga. Hasil
penelitiannya menyebutkan bahwa air sungai Gangga benar-benar ajaib, sebab dari
observasi yang dilakukan, air sungai Gangga dapat membunuh bakteri disentri dan
kolera, demikian juga bakteri yang merugikan manusia. Kemudian dengan penuh
kekaguman ia berkata “Suatu mineral yang tidak dikenal yang dikandung oleh air
Gangga ternyata dapat membunuh kuman atau bakteri penyakit”. Dr. GE. Nelson
seorang kebangsaan Inggris juga melakukan penyelidikan di sungai Gangga dan
menyatakan bahwa air sungai Gangga dapat bertahan berbualan-bulan bahkan
bertahun-tahun karena air dalam sungai Gangga terkandung anasir-anasir yang
tidak dikenal, sehingga dapat bertahan lama. Dr. F.G Harrison seorang ilmuwan
juga berpandangan sama, bahwa air sungai Gangga adalah sangat ampuh untuk
membunuh kuman apa pun, dan anehnya justru air tersebut jika dimasak akan
melahirkan banyak bakteri. Demikian juga para ilmuwan Barat lainnya, menyatakan
kekagumannya dengan sungai Gangga, bahkan mereka rela meninggalkan segalanya
untuk menyepi di pinggir sungai Gangga.
Demikian
sucinya air sungai Gangga, sehingga tidak ada kuman yang hidup. Air sungai
Gangga mengalir disertai dengan keyakinan dan penghormatan kepadanya sebagai
air yang suci. Demikian juga air sungai, laut dan kandungan air di alam ini,
yang tidak lain adalah air kehidupan yang muncul dari Gangga. Bertumpu pada hal
ini, tradisi Veda begitu meyakini air suci sebagai pemberi kesucian dan
kehidupan bahkan penghapus segala dosa. Dosa adalah karma dan kita akan nikmati
sebagai sebuah konsekuensi, tetapi dengan air suci, karma buruk akan terkikis,
sehingga yang tersisa tinggal karma baik. Terlebih, jika kita dapat menyucikan
diri di sungai Gangga dan belajar pada aliran airnya yang tenang, menyiratkan
bahwa ketenangan jiwa adalah kebutuhan untuk menenangkan arus gelombang
pikiran. Dengan air kita dapat hidup, tidak salah kita memberikan penghormatan
dan meyakininya sebagai yang dipenuhi kesucian, maka dari itu jaga dan
lestarikan air sebagai dewi Gangga pemberi nektar abadi kehidupan.
Om Ganggaya Namah.
Sumber
: http://majalahhinduraditya.blogspot.com/2013/04/air-dalam-tradisi-veda.html
Budaya
Bali Bernapaskan Agama Hindu
WEDA,
kitab suci agama Hindu, adalah sabda Tuhan yang bersifat supra empiris.
Artinya, diluar pengalaman manusia. Sabda Tuhan tersebut diamalkan manusia
secara individual maupun dalam kehidupan sosial dalam masyarakat. Sabda Tuhan
itu mahasempurna, sedangkan manusia yang mengamalkannya penuh dengan berbagai
keterbatasan atau tidak sempurna. Pengalaman agama dalam kehidupan empiris itu
tentu tidak sesempurna sebagaimana yang disabdakan Tuhan.
Pengamalan
Weda tersebut dinyatakan dalam Manawa Dharmasastra II.12 dan 18 dengan istilah
Sadacara. Kala Sadacara berasal dari bahasa Sansekerta, dari kata sat yang
artinya kebenaran Weda. Dari kata sat inilah muncul kata satya yang artinya
kebenaran Weda. Sedangkan kata acara artinya kebiasaan yang telah menguat dalam
masyarakat sampai menjadi adat istiadat. Dengan demikian, Satacara dalam bentuk
sandi menjadi Sadacara, artinya tradisi atau adat istiadat berdasarkan Weda.
Umumnya,
istilah acara ini artinya adat kebiasaan. Adat istiadat itu adalah kegiatan
serta karya manusia yang telah melembaga dalam masyarakat. Pengamalan kebenaran
Weda sampai mentradisi dalam kehidupan individual maupun dalam kehidupan sosial
dalam suatu masyarakat. Ajaran Weda yang sudah mentradisi inilah yang disebut
dengan Acara dan Manawa Dharmasastra. Inilah sesungguhnya sebagai suatu
kebudayaan. Oleh karena ia berasal dari ajaran Weda, dapatlah disebut
kebudayaan Hindu atau kebudayaan Weda.
Van
Peursen dalam bukunya "Strategi Kebudayaan" (1976) menyatakan bahwa
"Kebudayaan itu adalah endapan dari kegiatan dan karya manusia".
Berdasarkan konsep kebudayaan Van Peursen ini, ajaran Weda yang telah
mentradisi atau sebagai suatu endapan karya dan kegiatan manusia penganut Weda
ini dapat disebut kebudayaan Hindu.
Sarasamuscaya
260 juga menyatakan agar ajaran Weda ditradisikan. Proses mentradisikan ajaran
Weda ini dinyatakan dengan istilah Wedabyasa. Maksudnya agar ajaran Weda itu
diwujudkan menjadi tradisi atau kebiasaan hidup dalam masyarakat. Sarasamuscaya
275 menyatakan dengan istilah "mangabiasa dharmasadhana". Artinya
mentradisikan pengamalan Dharma.
Dari
pentradisian pengamalan Dharma atau inti ajaran Weda itulah akan terbentuk
kebudayaan Weda atau kebudayaan Hindu dalam kehidupan empiris untuk Hindu. Weda
sebagai sabda Tuhan yang supra empiris itu tentunya akan berbeda dalam
kehidupan kebudayaan Hindu yang empiris. Artinya, idealisme Weda akan mengalami
lebih dan kurang dalam realita kehidupan penganut Weda (Hindu).
Perbedaan
antara idealisme Weda dan realitanya yang ditradisikan oleh umat penganut Weda
akan berbeda-beda antara satu kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat
yang lainnya sesama penganut Weda. Perbedaan itu juga akan terjadi antara satu
zaman dengan zaman yang lainnya. Kebenaran Weda itu adalah Sanatana Dharma atau
kebenaran yang kekal abadi. Sedangkan dalam penerapannya, Weda itu bersifat
nutana, artinya selalu dapat diremajakan sesuai dengan perkembangan dan
kebutuhan zaman dalam artinya yang luas.
Hal
ini terjadi karena alam dan manusia ciptaan Tuhan tidak kekal, sedangkan
kebenaran Weda itu kekal. Intisari Weda sebagai jiwa dari tradisi Weda.
Demikian halnya dengan keberadaan kebudayaan Bali
sebagai wujud pengalaman ajaran agama Hindu di Bali. Kebenaran Weda yang kekal
abadi itu diterapkan sesuai dengan keberadaan alam dan manusia Bali.
Penerapan ajaran Weda (agama Hindu) disesuaikan dengan keberadaan alam, manusia
dan perubahan zaman atau waktu.
Lima Pertimbangan
Dalam
Manawa Dharmasastra VII.10 ada dinyatakan bahwa untuk mensukseskan pengamalan
Dharma (agama Hindu), hendaknya diterapkan berdasarkan lima pertimbangan yakni Iksha (pandangan masyarakat
penganut Weda), Sakti (kemampuan), Desa (aturan rokhani yang sudah ada), Kala
(waktu) dan Tattwa (kebenaran Weda).
Maksud
sloka Manawa Dharmasastra tersebut adalah memberikan konsep untuk mensukseskan
tujuan Dharma (agama Hindu). Artinya, penerapan Dharma itu akan sukses jika
diterapkan berdasarkan pertimbangan seperti yang dinyatakan dalam Sloka Manawa
Dharmasastra. Penerapan Dharma agar sukses jika diterapkan sesuai dengan
pandangan masyarakat (Iksha), kemampuan umat (Sakti), aturan rokhani yang sudah
berlaku (Desa), disesuaikan dengan waktu (Kala).
Yang
penting tidak bertentangan dengan kebenaran Weda itu sendiri (Tattwa). Ini
artinya Tattwa kebenaran itu harus diterapkan dengan disesuaikan dengan Iksha,
Sakti, Desa dan Kala. Tujuannya sebagai media mengkemas pengamalan Tattwa.
Demikianlah
halnya dengan kebudayaan Bali sebagai wujud penerapan Tattwa agama Hindu yang
didasarkan pada pertimbangan keberadaan Iksha, Sakti, Desa dan Kala-nya daerah Bali.
Dengan kata lain, kebudayaan Bali itu sebagai badan wadagnya agama Hindu. Sedangkan
Tattwa atau kebenaran Weda itu sebagai jiwanya agama Hindu di Bali.
Dengan
adanya lima dasar pengamalan Weda itulah bentuk luar agama Hindu
berbeda-beda di setiap daerah. Itu karena keberadaan Iksha, Sakti, Desa dan
Kala dari daerah satu dengan daerah lainnya berbeda-beda. Hal itulah
menyebabkan bentuk luar kebudayaan Hindu berbeda-beda antara satu daerah dengan
daerah lainnya.
Meskipun
demikian, intinya tetap sama yaitu kebenaran Weda yang kekal abadi. Dengan
demikian tidaklah tepat mempertentangkan perbedaan kemasan budaya Hindu yang
berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Adanya saling pengaruh
mempengaruhi antara budaya Hindu yang berbeda-beda itu tentunya sah-sah saja.
Sepanjang pengaruh-mempengaruhi itu berjalan secara harmonis, wajar dan
berdasarkan kebenaran.
Demikianlah
proses terbentuknya kebudayaan Bali yang dijiwai oleh agama Hindu. Budaya Bali akan ajeg
apabila dinamika budaya Bali itu tidak meninggalkan jiwanya yaitu agama Hindu.
Perubahan budaya Bali tidak sampai meninggalkan jiwanya yang disebut Tattwa.
Sumber: http://www.balipost.com/mediadetail.php?module=detailberitaminggu&kid=25&id=8703
Selasa, 23 April 2013
Contoh Latar Belakang KTI
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1.Latar
Belakang
Anak merupakan generasi
penerus berlangsungnya kehidupan manusia dalam hal ini. Undang-Undang
Perlindungan Anak No. 23 Tahun 2002 menerangkan
Bahwa anak adalah amanah dan karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang dalam
dirinya melekat harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya. Definisi anak
pada Pasal 1 disebutkan bahwa yang dimaksud dengan seorang anak adalah
seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih
dalam kandungan.dalam rentang umur ini anak masih rentang pada kesalahan
sehingga perlu pengawasan dari orang yang lebih dewasa, dalam hal ini adalah
orng tua dari si anak. Pola pikir dan tingkah laku yang ditunjukkan oleh si
anak masih digolongkan dalam kategori belajar dan belum sesempurna seperti yang
ditunjukkan oleh orang dewasa. Anak harus sering – sering bersosialisasi untuk
menyempuranakan pola pikirnya dan tingkah lakunya. Oleh karena itu, dalam hal
ini orang dewasa harus mampu membimbing dan memandu anak – anak untuk
menyempurnakan kelakuannya dan mengarahkan agar anak tidak sering melakukan
penyimpangan di kehidupannya mendatang.
Daya pikir dari anak
masih terbtas bila di usia dini dan akan terus berkembang mengikuti berbagai
pengalaman yang ia dapatkan. Pengalaman itu bisa diperoleh dari kehidupan
sehari – hari yang dialami si anak. Hal itu bisa berupa mengingat, menghubungkan,
mengkaitkan, menggolongkan, memberikan simbol, mengkhayal, menciptakan sesuatu,
dan lain – lain. Dengan melakukan hal – hal tersebut, diharapkan anak nantinya
dapat berpikir rasional, berpikir yang sesuai dengan logika, hukum alam dan
kenyataan. Untuk mencapai hal tersebut, biasanya anak – anak, mulai usia SD,
bahkan TK, namun pada umumnya SD, dipaksa oleh para orang tuanya untuk belajar
dan belajar tentang pelajaran – pelajaran di sekolah. Pelajaran yang biasanya
diberikan adalah pelajaran – pelajaran tentang teori. Memang benar daya pikir
rasional si anak akan berkembang, namun jika hal ini dilangsungka secara terus
– menerus, anak akan menjadi jenuh dan berusaha meninggalkan pelajaran. Dan
parahnya, orang tua malah terus memaksa anaknya untuk belajar. Orang tua
sekarang seakan lupa akan karaktersitik anak sesungguhnya yang mudah bosan. Dan
yang juga yang tidak disadari oleh orang tua adalah dengan bermain sebenarnya
daya pikir rasional anak akan semakin berkembang. Sederhana, menghasilkan,
namun dianggap remeh.
Permainan yang
dilakukan tida perlu terlalu rumit, cukup sederhana saja seperti kebanyakan permainan tradisional di masing – masing
daerah. Permainan tradisiobal tidak
memerlukan biaya yang banyak dan alat – alat yang rumit serta sulit dicari
karena permainan tradisional memanfaatkan alat – alat yang ada di lingkungan
sekitar, hal ini tidak mampu ditampilkan oleh game – game canggih yang marak beberapa tahun belakangan ini.
Selain itu memainkan game online mengurangi interaksi sosial penggunanya karena
bersifat virtual. Dengan melakukan permainan tradisional, terutama yang
dilakukan berkelompok akan mampu meningkatkan interaksi sosial yang terjadi di dalamnya.
Tidak melupakan keunggulan lainnya yang telah disinggung di atas, permainan
tradisional juga ampuh untuk meningkatkan daya pikir rasional anak. Hal ini
bisa dilihat dari penerapan permainan tradisional, seperti dalam permainan
petak umpat, anak akan dilatih berpikir rasional dalam menemukan tempat
persembunyian agar tidak mudah ditemukan. Di beberapa permainan tradisional
lainnya, anak dilatih untuk mengatur strategi agar bisa menang dalam permainan.
Dengan kata lain, dimungkinkan jika permainan tradisional dapat digunakan
sebagai solusi alternatif untuk meningkatkan daya pikir rasional anak. Oleh
karena itu, kali ini kami mengangkat judul karya tulis, “PERMAINAN TRADISIONAL
SEBAGAI SOLUSI ALTERNATIF MENINGKATKAN DAYA PIKIR RSIONAL ANAK”.
1.2.Rumusan
Masalah:
1.2.1. Bagaimana penerapan permainan tradisional agar bisa
meningkatkan daya pikir rasional anak?
1.2.2. Bagaimana cara mengaplikasikan permainan tradisional di
dunia modern?
1.3.Tujuan
Penulisan:
1.3.1. Untuk mengetahui bagaimana permainan tradisional agar
bisa meningkatkan daya pikir rasional anak.
1.3.2. Untuk mengetahui bagaimana cara mengaplikasikan permainan
tradisional di dunia modern.
Senin, 21 Januari 2013
Björk Guðmundsdóttir
Hola!!!
Kali ini saya ingin menarasikan salah satu musisi yang berpengaruh dalam hidup saya buat kita semua. Setelah sekian lama tidak memberikan postingan baru,..oke, tak lama - lama langsung bahas saja:
Björk Guðmundsdóttir
ok well, sekarang saatnya memberikan opini yang sarat akan unsur subjektivitas (jadi suka - suka dong!!). Pertama kali mendengar suara Bjork memang belum lama. Belum lewat satu bulan lah. Tapi telat beribu telat untuk mendengarkan lagu - lagu hebatnya. Dia kan sudah berjaya di pasar musik dunia sejak aku belum lahir. Lagu - lagu yang dibawakan oleh Bjork bukanlah lagu yang ringan. Lagunya penuh akan eksperimen - eksperimen unik dan menantang.. so ini salah satunya:
Langganan:
Postingan (Atom)