BAB
I
PENDAHULUAN
1.1.Latar
Belakang
Anak merupakan generasi
penerus berlangsungnya kehidupan manusia dalam hal ini. Undang-Undang
Perlindungan Anak No. 23 Tahun 2002 menerangkan
Bahwa anak adalah amanah dan karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang dalam
dirinya melekat harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya. Definisi anak
pada Pasal 1 disebutkan bahwa yang dimaksud dengan seorang anak adalah
seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih
dalam kandungan.dalam rentang umur ini anak masih rentang pada kesalahan
sehingga perlu pengawasan dari orang yang lebih dewasa, dalam hal ini adalah
orng tua dari si anak. Pola pikir dan tingkah laku yang ditunjukkan oleh si
anak masih digolongkan dalam kategori belajar dan belum sesempurna seperti yang
ditunjukkan oleh orang dewasa. Anak harus sering – sering bersosialisasi untuk
menyempuranakan pola pikirnya dan tingkah lakunya. Oleh karena itu, dalam hal
ini orang dewasa harus mampu membimbing dan memandu anak – anak untuk
menyempurnakan kelakuannya dan mengarahkan agar anak tidak sering melakukan
penyimpangan di kehidupannya mendatang.
Daya pikir dari anak
masih terbtas bila di usia dini dan akan terus berkembang mengikuti berbagai
pengalaman yang ia dapatkan. Pengalaman itu bisa diperoleh dari kehidupan
sehari – hari yang dialami si anak. Hal itu bisa berupa mengingat, menghubungkan,
mengkaitkan, menggolongkan, memberikan simbol, mengkhayal, menciptakan sesuatu,
dan lain – lain. Dengan melakukan hal – hal tersebut, diharapkan anak nantinya
dapat berpikir rasional, berpikir yang sesuai dengan logika, hukum alam dan
kenyataan. Untuk mencapai hal tersebut, biasanya anak – anak, mulai usia SD,
bahkan TK, namun pada umumnya SD, dipaksa oleh para orang tuanya untuk belajar
dan belajar tentang pelajaran – pelajaran di sekolah. Pelajaran yang biasanya
diberikan adalah pelajaran – pelajaran tentang teori. Memang benar daya pikir
rasional si anak akan berkembang, namun jika hal ini dilangsungka secara terus
– menerus, anak akan menjadi jenuh dan berusaha meninggalkan pelajaran. Dan
parahnya, orang tua malah terus memaksa anaknya untuk belajar. Orang tua
sekarang seakan lupa akan karaktersitik anak sesungguhnya yang mudah bosan. Dan
yang juga yang tidak disadari oleh orang tua adalah dengan bermain sebenarnya
daya pikir rasional anak akan semakin berkembang. Sederhana, menghasilkan,
namun dianggap remeh.
Permainan yang
dilakukan tida perlu terlalu rumit, cukup sederhana saja seperti kebanyakan permainan tradisional di masing – masing
daerah. Permainan tradisiobal tidak
memerlukan biaya yang banyak dan alat – alat yang rumit serta sulit dicari
karena permainan tradisional memanfaatkan alat – alat yang ada di lingkungan
sekitar, hal ini tidak mampu ditampilkan oleh game – game canggih yang marak beberapa tahun belakangan ini.
Selain itu memainkan game online mengurangi interaksi sosial penggunanya karena
bersifat virtual. Dengan melakukan permainan tradisional, terutama yang
dilakukan berkelompok akan mampu meningkatkan interaksi sosial yang terjadi di dalamnya.
Tidak melupakan keunggulan lainnya yang telah disinggung di atas, permainan
tradisional juga ampuh untuk meningkatkan daya pikir rasional anak. Hal ini
bisa dilihat dari penerapan permainan tradisional, seperti dalam permainan
petak umpat, anak akan dilatih berpikir rasional dalam menemukan tempat
persembunyian agar tidak mudah ditemukan. Di beberapa permainan tradisional
lainnya, anak dilatih untuk mengatur strategi agar bisa menang dalam permainan.
Dengan kata lain, dimungkinkan jika permainan tradisional dapat digunakan
sebagai solusi alternatif untuk meningkatkan daya pikir rasional anak. Oleh
karena itu, kali ini kami mengangkat judul karya tulis, “PERMAINAN TRADISIONAL
SEBAGAI SOLUSI ALTERNATIF MENINGKATKAN DAYA PIKIR RSIONAL ANAK”.
1.2.Rumusan
Masalah:
1.2.1. Bagaimana penerapan permainan tradisional agar bisa
meningkatkan daya pikir rasional anak?
1.2.2. Bagaimana cara mengaplikasikan permainan tradisional di
dunia modern?
1.3.Tujuan
Penulisan:
1.3.1. Untuk mengetahui bagaimana permainan tradisional agar
bisa meningkatkan daya pikir rasional anak.
1.3.2. Untuk mengetahui bagaimana cara mengaplikasikan permainan
tradisional di dunia modern.